LEGENDA GUNUNG BAGUS GUNUNGKIDUL (10) – Sakit Cacar, Dititipkan pada Ki Ageng Wonoboyo

Gusti Sultan pun memutuskan untuk menjadikan si gadis sebagai selirnya. Sebagai rakyat kecil, si gadis tak bisa menolak lamaran Gusti Sultan. Jadilah ia sebagai selir, untuk mendampingi permaisuri yang juga turut dalam pengungsian. Sang permaisuri juga menerima si gadis sebagai keluarga baru Gusti Sultan.

SEMBILAN bulan setelah menikah dengan Gusti Sultan, gadis Desa Kedunglumbu itu pun melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Oleh Gusti Sultan, anak tersebut diberinya nama Jaka Bagus. Tidak berapa lama setelah kelahiran Jaka Bagus, sang permaisuri juga melahirkan seorang anak laki-laki, yang kemudian diberi nama Jaka Trenggana.

Dua anak laki-laki beda ibu itu pun besar bersama sehingga seolah sepeeti saudara kandung saja. Keduanya memang terlihat rukun, dan dibesarkan di tengah suasana pedesaan di Desa Kedunglumbu.

Hingga akhirnya suatu hari tanpa diduga Jaka Bagus mengalami sakit cacar. Tak ingin Jaka Trenggana tertular, maka Gusti Sultan segera mengungsikan Jaka Bagus ke tempat lain. Ia dibawa ke Desa Giring di wilayah Gunungkidul, bersama dengan seorang emban dan satu orang pengawal. Di tempat tersebut mereka dititipkan pada Ki Ageng Wonoboyo.

Gusti Sultan berharap Ki Ageng Wonoboyo bisa merawat Jaka Bagus hingga sembuh. Saat menyerahkan Jakan Bagus, Gusti Sultan bersabda agar Ki Ageng Wonoboyo bisa mengupayakan kesembuhan bagi Jaka Bagus. Ini tugas berat, karena cacar merupakan sakit berat yang sulit sekali dicarikan obatnya. Namun Ki Ageng Wonoboyo menerima tugas itu, karena merupakan perintah raja.

Selain itu, Gusti Sultan masih memberi titah lain. Seandainya kelak Jaka Bagus bisa sembuh, maka Ki Ageng Wonoboyo masih diberi tugas untuk mengasuhnya sampai kelak dewasa. Namun seandainya Jaka Bagus tidak bisa deselamatkan, maka Ki Ageng Wonoboyo dipesan agar jasadnya dimakamkan di puncak bukit yang tinggi. Kebetulan ada sebuah bukti yan letaknya di sebelah selatan Desa Giring. Sementara emban dan abdi dalam yang menyertainya, kelak diminta untuk dimakamkan di tempat yang posisinya berada di bawah tempat makam Jaka Bagus.
Ki Ageng Wonoboyo dipesan agar benar-benar menjalankan perintah itu.

“Sendika dawuh, Gusti,” kata Ki Agng Wonoboyo tanpa banyak bertanya. Perintah Gusti Sultan sudah jelas, sehingga ia tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah itu, Gusti Sultan kembali ke tempat pengungsiannya di Desa Kedunglumbu.
Gusti Sultan percaya sepenuhnya pada Ki Ageng Wonoboyo, karena sudah lama mengenal sosoknya. Selain itu, sudah ada emban yang setiap hari merawat Jaka Bagus sejak lahir. Juga ada pengawal yang bisa berjaga-jaga setiap saat jika diperlukan. (Dari berbagai sumber/*)

Read previous post:
Plum Australia Hindarkan Obesitas

 TAK sedikit jenis buah-buahan yang mempunyai bentuk bulat dengan tampilan cukup sederhana. Ketika dikonsumsi cita rasanya cukup khas, mengandung nilai

Close