LEGENDA GUNUNG BAGUS GUNUNGKIDUL (3) – Sulitnya Mengambil Keputusan karena Menyangkut Hati

Tatap muka pertama Rara Pembayun dengan Jaya Ketok berakhir dengan mengesankan. Keduanya merasa saling merasa cocok satu dengan yang lainnya. Secara fisik keduanya memang serasi. Jaya Ketok gagah dan tampan, sementara Rara Pembayun berwajah canti dengan gaya lemah lembut.

SETELAH pertemuan, keduanya pun berjanji untuk bertemu kembali di waktu dan tempat yang sudah mereka tentukan. Jadilah Jaya Ketok lebih sering pergi meninggalkan Blimbing, meski bukan waktunya untuk pisowanan. Rupanya ia hanya ingin bertemu dengan Rara Pembayun. Dua insan yang tengah dimabuk cinta itu sepertinya sudah tak terpisahkan lagi meski melakukan pertemuan secara sembunyi-sembunyi.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan terpeleset juga. Seorang abdi dalem Naya yang mengamati tingkah laku Rara Pembayun merasa curiga, sehingga berinisiatif untuk melakukan investigasi. Saat bertanya pada emban pengasuh Rara Pembayun, abdi dalem itu mendapat jawaban yang tidak memuaskan, karena berbelit-belit dan tidak masuk akal.

Karena itu, Naya secara diam-diam mengamati gerak-gerik Rara Pembayun. Ternyata kecurigaannya benar juga. Ia memergoki sendiri Rara Pembayun mengadakan pertemuan dengan Jaya Ketok di sebuah tempat yang cukup tersembunyi. Dengan tergopoh-gopoh, si abdi dalem menghadap pada Gusti Sultan untuk melaporkan apa yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri.

“Apakah benar, kamu tidak salah melihat,” kata Gusti Sultan kaget.
“Ampun Gusti, hamba melihat sendiri,” jawab abdi dalem Naya dengan nada bergetar karena takut.
“Kamu yakin laki-laki itu Jaya Ketok?” tanya Gustu Sultan lagi.
“Ampun Gusti, benar. Hamba yakin, pria itu Jaya Ketok dari Blimbingan.”

Gusti Sultan paham, karena ia juga sudah mengenal Jaya Ketok, yang sering menyertai ayahnya, Ramgga Blimbingan saat melakukan pisowanan. Diakui Gusti Sultan, sosok Jaya Ketok memang seorang pria yang gagah perkasa dengan wajah yang rupawan. Tak heran jika Rara Pembayun sampai jatuh hati padanya. Gusti Sultan merasa dirinya tak bisa menyalahkan putrinya. Namun posisi sebagai seorang raja harus bicara lain. Jaya Ketok yang hanya anak seorang rangga, tentu tak sebanding dengan Rara Pembayun yang anak seorang raja.

“Memang berat, sebagai ayah saya harus memahami anak yang sedang jatuh hati. Namun sebagai raja, saya tak bisa membiarkan hal ini terjadi kara bisa menjatuhkan maratabt keluarga kerajaan,” kata Gusti Sultan dalam hati.

Gusti Sultan pun berpikir keras, untuk bisa menyelasaikan masalah yang pelik ini. Jika untuk menyelesaikan masalah kerjaan, Gusti Sultan bisa bertindak dengan tegas, namu tentunya tidak demikian halnya dengan kasus ini. Karena Gusti Sultan menyadari ini menyangkut hati seorang putri yang sedang dimabuk cinta. (Dari berbagai sumber/*)

Read previous post:
Etik Suryani-Agus Santosa Pimpin Petani Gropyokan Tikus Serentak

SUKOHARJO (MERAPI) - Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa memimpin kegiatan gropyokan tikus di area sawah

Close