LEGENDA GUNUNG BAGUS GUNUNGKIDUL (1) – Mengiring Ayahanda Mengikuti Pisowanan pada Gusti Sultan

Kerajaan Mataram yang gemah ripah loh jinawi, rakyatnya hidup dengan damai dan bahaia di bawah kekuasaan Gusti Sultan Agung. Kehidupan masyarakat tertata rapi, dengan menerapkan gotong royong dan saling membanu di antara sesama. Pengelolaan daerah berjalan lancar, karena dipimpin oleh seorang rangga atau penguasa wilayah.

HARI itu Rangga Blimbing tampak sibuk sekali mempersiapkan diri untuk acara pisowanan pasok bulu bekti ke kerajaan. Ia tak ingin mengecewkan Gusti Sultan, sehingga selalu mencermati sendiri barang-barang yang dipersiapkan para abdi untuk dibawa ke ibukota. Pisowanan pasok bulu bekti merupakan tradisi tahunan sebagai tanda bakti daerah kepada Kesultanan.

Aneka hasil bumi, hasil kerajinan dan perhiasan disusun rapi. Rangga Blimbing tak ingin barang upeti dari daerahnya kalah dibanding dengan upeti dari rangga wilayah lainnya. Rangga Blimbing juga khawatir, jangan sampai mengecewakan Sultan.
Ia masih ingat betul, ketika salah satu rangga yang lupa hadir dalam pisowanan harus dibuat repot. Utusan keraton datang ke rangga tersebut untuk melakukan investigasi, karena diduga akan melakukan pemberontakan. Rangga Blimbing takut mendapat hukuman, bahkan bisa saja dirinya dimasukkan penjara karena disangka memberontak.

“Jaya, apakah semua sudah dipersiapkan dengan matang?” tanya Rangga Blimbing pada Jaya Ketok.
Anak laki-lakinya itu memang selalu diajak serta dalam beberapa kali pisowanan terakhir. Rangga Blimbing sekaligus ingin memperkenalkan anaknya yang gagah dan tampan itu kepada Sultan, agar ke depan tidak canggung lagi seandainya ia harus menggantikan posisinya.
“Sudah ayah, tidak ada lagi yang ketinggalan sesuai pesan ayah,” jawab Jaya Ketok dengan tegas.

Rombongan kecil Rangga Blimbing dengan membawa seperangkat upeti pun berangkat menuju ke pusat kerajaan. Jaya Ketok terlihat menonjol di antara rombongan, lantaran perawakannya yang gagah dan wajahnya yang tampan. Ia juga tampak gesit dalam setiap tindakan, sehngga memang sangat diandalkan oleh ayahnya.

Bahkan saat pisowanan yang dilaksanakan secara resmi pun, keneradaan Jaya Ketok masih mampu menonjol. Tak disadarinya, ada salah satu orang yang ternyata sudah beberapa kali mengamati kehadiran Jaya Ketok. Dia adalah Gusti Rara Pembayun, salah satu putri Gusti Sultan Agung yang tak jarang turut hadir dalam acara pisowanan.

Lantaran sering bertemu dan melihat tingkah laku Jaya Ketok yang menawan, diam-diam Gusti Rara Pembayun menaruh hati. Ia terpesona dengan penampilan pemuda dari Blimbing itu, meski sebenarnya bukan dari kalangan bangsawan.
Keinginannya untuk menenal ebih dekat pun tak bisa ditahan, sehingga Rara Pembayun mengutus emban kepercayannya untuk menyampaikan sebuah nawala. Rara Pembayun ingin menemui Jaya Ketok di sampin taman keputren seusai acara pisowanan. (Dari berbagai sumber/*)

Read previous post:
Gagal Dibius Dika karena Tak Doyan Minuman Bersoda

Close