MISTERI PRAJA CIHNA, SIMBOL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (5-HABIS) – Tidak Boleh Digunakan Secara Sembarangan

MERAPI-HENDRO WIBOWO
Praja Cihna peninggalan Sultan HB VIII.

Selain berfungsi sebagai ragam hias di beberapa bangunan, Praja Cihna juga digunakan dalam kop surat resmi dan medali penghargaan.
Lambang keraton ini terdapat di beberapa tempat, di antaranya di sisi luar kuncungan Bangsal Manis bagian timur dan pintu gerbang Donopertopo, tepatnya di atas jam besar di sebelah barat masjid Tamanan perempatan Rotowijayan sebelum masuk Keben (Ngejaman).

SECARA keseluruhan lambang keraton ini merupakan sengkalan memet yang berbunyi Kaluwihaning-Yaksa-Salira-Aji yang bermakna tahun 1851: Kaluwihaning berbentuk ukiran daun kluwih bermakna 1, yaksa atau kemamang bermakna 5, salira berupa binatang melata atau ular naga bermakna 8, aji lambang raja Ha Ba didalam lingkaran bola dunia bermakna 1.Artinya 1851 merupakan tahun saka atau 1921 masehi.

Penyalahgunaan lambang

Karena kerajaannya masih eksis dan terbuka untuk semua kalangan, banyak orang yang salah memahami, mengira semua lambang/atribut keraton Jogja (termasuk lambang keraton) boleh digunakan oleh siapa saja. Termasuk sekedar untuk bercanda (lucu-lucuan). Padahal bagi masyarakat Jawa, Keraton Jogja sangat sakral dan diyakini tidak bisa sembarangan, termasuk perangkat, atribut-atribut, lambang, logo keraton. Bahkan ada suatu kepercayaan di kalangan masyarakat Jawa, yang sembarangan (kurang ajar) terhadap Keraton bisa kualat.

Beberapa waktu lalu, salah satu putri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu pernah mencuit di akun twitter nya, tentang penyalahgunaan lambang keraton.

“Selamat siang sedulur sekalian, kali ini mari kita belajar tentang lambang HaBa atau praja cihna. Terutama kalau sedulur sekalian jualan lambang ini. Cobalah untuk mengerti dan ngrumangsani (sadar diri), sakjane (merasa) yang kalian jual itu apa. Kali ini kita pakai contoh design kaos di papan ini,” tulis Hayu.

Dalam cuitannya saat itu, puteri ke 4 Ngarsa Dalem X itu juga melampirkan desain kaus tersebut. Sebuah billboard komersial yang menampilkan seorang wanita menggunakan kaus berwarna hitam, lengkap dengan sebuah simbol khusus di kaus tersebut. Desain kaus bergambar lambang Kasultanan Ngayogyakarta itu dibuat oleh salah satu toko retail yang menjual sejumlah brand lokal. Seperti kaus, batik hingga kerajinan tangan.

Menurut Hayu, tidak semestinya simbol itu berada di kaus dan dijual bebas seperti itu. Sebab, kata dia, simbol itu hanya boleh digunakan oleh Sultan seorang. Berbeda halnya dengan simbol kesultanan Yogya yang boleh digunakan oleh semua kalangan.
“Dalam contoh ini, yang dijual adalah lambang pribadi Sultan HB X. Nyuwun tulung Tolong Plis, pelajari simbol-simbol Kraton yang kalian jual/modif. Rumangsa lan ngrumangsani njih (merasakan dan sadar diri ya),” katanya menambahkan.

GKR Hayu meminta pengguna lambang kasultanan itu untuk memahami dan mengerti akan produk apa serta lambang apa yang hendak dijual. Dalam rangkaian ‘kicauannya’, GKR Hayu mengatakan bahwa lambang ini tak berbeda jauh dengan lambang Garuda milik Indonesia. “Jadi tolong itu dipertimbangkan sebelum kalian jual atau modif untuk lambang kalian sendiri,” imbuhnya.

Praja Cihna sendiri ada dua, pertama merupakan lambang institusi Kasultanan, kedua adalah lambang pribadi Sri Sultan HB X. “Dalam contoh ini [reklame] yang dijual adalah lambang pribadi Sultan HB X. Jadi tolong pertimbangkan, sebelum kalian jual atau modif untuk lambang kalian sendiri,” kata GKR Hayu dalam laman twitternya.

Saat dikonfirmasi terkait cuitannya itu, GKR Hayu menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin mengingatkan kepada para penjual untuk tidak menggunakan simbol tersebut di kaus. Meski demikian, dia tak akan melaporkan kasus ini ke ranah hukum.
“Lebih tepatnya saya mengimbau (penjual kaus) untuk reconsider (memikirkan ulang) penjualan design itu,” kata Hayu.

GKR Hayu menjelaskan — sebagaimana dikutip dari kumparan –, tidak diperbolehkannya simbol tersebut digunakan sembarang orang bukan karena soal hak cipta. Dia sendiri tak yakin bahwa simbol itu sudah didaftarkan ke Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual. Namun pada prinsipnya, kata dia, larangan tersebut menyangkut soal etika. “Namanya orang Yogja ada prinsip rumangsa (merasakan) dan ngrumangsani (sadar diri),” tambahnya. (Hendro Wibowo)

Read previous post:
MISTERI PRAJA CIHNA, SIMBOL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (4) – Memiliki Delapan Unsur Pembentuk atau Rerenggan

Lambang atau simbol ini juga berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan nama dan masa sultan yang bertahta. Awalnya, jumlah

Close