MISTERI PRAJA CIHNA, SIMBOL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (4) – Memiliki Delapan Unsur Pembentuk atau Rerenggan

MERAPI-HENDRO WIBOWO
Lambang Praja Cihna HB VII menghiasi tandu.

Lambang atau simbol ini juga berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan nama dan masa sultan yang bertahta. Awalnya, jumlah bulu pada gambar sayap di masing-masing sisi berjumlah 8 (delapan) buah, sebagai identitas dari Sri Sultan Hamengku Buwana VIII sebagai Sultan ke-8 yang bertahta. Saat ini, gambar sayap tersebut terdiri dari 10 lembar bulu di masing-masing sisinya.

PRAJA cihna yang digunakan sekarang memiliki delapan unsur pembentuk (rerenggan) dengan makna dan filosofi sesuai dengan peraturan keraton No.5/KHSW/1989, dikeluarkan pada 29 Rejeb Wawu 1921 (7 Maret 1989) sebagai berikut :
Praja Cihna terdiri dari beberapa bagian yang juga memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Adapun makna-makna yang terdapat dalam lambang tersebut adalah:

  1. Songkok / Mahkota
    Ageman irah-irahan prajurit. Minangka pralambang sipat satriya sarta cihnaning Nata.
    Penutup kepala yang dikenakan oleh prajurit Melambangkan watak ksatria yang juga merupakan sifat seorang Raja
  2. Sumping / Hiasan Telinga
    Ageman tancep talingan. Ceplik, lambange urip, kayadene kembang srengenge. Godhong kluwih, saka tembung “luwih”, duwe kaluwihan. Makara, rasa dayane kanggo hanjaga rubeda, awit kuncarane kraton
    Perhiasan yang diselipkan ditelinga. Giwang, yang berbentuk seperti bunga matahari, melambangkan kehidupan. Daun Keluwih, berasal dari kata “luwih” yang berarti kelebihan. Makara, melambangkan perlindungan untuk keselamatan kraton.
  3. Praba / Sorot Cahaya
    Gegambaraning parogo ingkang kinormatan sayekti tumrap kapitayan Jawa Mataram.
    Melambangkan pribadi yang dapat menegakkan kehormatan Jawa Mataram.
  4. Lar / Sayap
    Swiwi Peksi, lambange gegayuhan inggil kayadene sumundul angkasa.
    Melambangkan cita-cita tinggi, setinggi langit.
  5. Tameng / Tameng
    Sanjata kanggo handanggulangi salira ing palagan. Warni abrit, pralambang niat wanton jalaran hambela gegayuhan leres tumrap bebrayan, ananging mboya nilarake sipat waspada.
    Senjata untuk melindungi diri pada saat perang. Warna merah melambangkan keberanian yang tanpa meninggalkan kewaspadaan untuk membela kebenaran.
  6. Seratan Ha Ba / Tulisan Ha Ba
    Cihnaning Nata, bilih ingkang jumeneng enggeh sesilih Hamengku Buwana. Asma puniku kebak wucalan hadi luhung kacihna hamengku, hamangku, sarta hamengkoni. Warna jene pralambang Agung Binathara.
    Aksara Jawa ‘Ha’ dan ‘Ba’ merupakan singkatan dari gelar Sultan yang bertahta di Keraton Yogyakarta. Gelar tersebut penuh dengan harapan luhur agar mampu melindungi, membela, serta mewujudkan kemakmuran rakyat. Warna kuning keemasan melambangkan keagungan
  7. Kembang/ Sekar Padma / Bunga Padma.

Sesambetane kaliyan panggesangan bilih samangke sedaya puniku ugi linambaran dateng gelare donya akhirat
Bunga teratai yang mengambang di atas air menggambarkan kehidupan dunia yang mendasari kehidupan di akhirat.

  1. Laler/Sulur / Tumbuhan Sulur
    Pralambang bilih panggesangan puniku lumampah kalajengan kados gesange sulur mrambat
    Menggambarkan kehidupan berkelanjutan laksana sulur yang terus menerus tumbuh merambat. (Hendro Wibowo)

Read previous post:
MISTERI PRAJA CIHNA, SIMBOL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (3) – Bentuk Embrio Ditemukan pada Bagian Atap Bangsal Manis

Di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VII, lambang mahkota tersebut masih banyak diterapkan sebagai unsur hias. Selain unsur mahkota yang

Close