MISTERI PRAJA CIHNA, SIMBOL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (3) – Bentuk Embrio Ditemukan pada Bagian Atap Bangsal Manis

MERAPI-HENDRO WIBOWO
Praja Cihna HB VII ternyata ada di Tugu Jogja.

Di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VII, lambang mahkota tersebut masih banyak diterapkan sebagai unsur hias. Selain unsur mahkota yang sangat presisi, getaran estetik bernuansa Eropa yang sangat kental juga ditampilkan dalam wujud singa di kiri dan kanan mahkota. Lambang yang dipakai Sri Sultan Hamengku Buwana VII memiliki kemiripan dengan lambang Kerajaan Belanda. Hal ini bisa dilihat di Bangsal Manis.

HURUF dan angka dibingkai dengan sulur-sulur yang indah, di atasnya terdapat mahkota lambang kerajaan. Baru pada awal abad ke-20, menjelang masa akhir Pemerintahan Hindia-Belanda, lambang-lambang kerajaan penerus Dinasti Mataram itu dirancang ulang dengan memasukkan unsur budaya lokal, di antaranya adalah mengganti huruf latin dengan Aksara Jawa. Yang unik adalah : mahkota lambang kerajaan bergaya Eropa, diberi sentuhan khas Jawa.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1921, ada keinginan untuk membuat lambang keraton berlandaskan cita rasa estetik dengan mengangkat seni budaya sendiri. Lambang yang berbeda dengan bentuk sebelumnya, tidak terpengaruh oleh bentuk mahkota gaya seni Eropa.

Bentuk Praja Cihna yang ada pada masa HB VII mengalami penyesuaian pada era HB VIII. Mulanya, perubahan bentuk Praja Cihna pada awal pemerintahan HB VIII tidaklah besar. Bentuk tersebut masih dapat disaksikan di Bangsal Manis, yang pada salah satu dindingnya terdapat Praja Cihna dengan simbol aksara romawi VIII lengkap dengan hiasan mahkota, padi dan kapas. Simbol ini serupa dengan Praja Cihna di era HB VII yang ada di sisi Selatan Tugu.

Embrio Praja Cihna yang digunakan hingga saat ini disusun pada masa pemerintahan HB VIII. Angka Romawi diganti dengan tulisan Ha-Ba dalam Aksara Jawa. Disamping itu, terdapat hiasan lar (sayap) di sisi kanan dan kiri lambang. Bagian puncak yang semula menggunakan crown yang bergaya Eropa diganti dengan songkok, yaitu sebentuk tutup kepala khas prajurit Mataram, simbol kegagahberanian yang mendominasi kultur Yogyakarta, warisan dari pendirinya Pangeran Mangkubumi yang kemudian bertahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana I, yang lebih bernuansa Jawa.

Selain itu, hiasan padi dan kapas masih tetap dipertahankan di bagian lambang paling bawah.
Bentuk embrio Praja Cihna dapat ditemukan pada bagian atap Bangsal Manis. Praja Cihna dengan bentuk ini juga dapat ditemukan pada surat-surat resmi kenegaraan pada masa itu.
Selanjutnya, bentuk Praja Cihna disesuaikan kembali yakni dengan menghilangkan unsur padi dan kapas hingga yang membuat bentuknya lebih dekat dengan Praja Cihna saat ini.

Pada masa ini, selain lambang Kasultanan, juga disusun lambang bagi pribadi Sultan. Lambang pribadi atau Cihnaning Pribadi ini bentuknya sama persis dengan Praja Cihna dengan tambahan Huruf Murda di bagian bawah helai sayap. Huruf Murda tersebut berarti angka yang menandakan Sultan yang sedang bertahta. Cihnaning Pribadi ini banyak ditemukan pada benda-benda seperti perabot rumah tangga peninggalan Sultan-Sultan yang pernah bertahta. (Hendro Wibowo)

Read previous post:
Isi Waktu Luang, Pelajar di Samigaluh Berlatih Memproduksi Gitar

SAMIGALUH (HARIAN MERAPI) - Puluhan pelajar di Padukuhan Jetis, Kalurahan Gerbosari Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo, belakangan ini mengisi waktu luang mereka

Close