RADEN KATONG PENDIRI KABUPATEN PONOROGO (5-HABIS) – Istri-istrinya Dipesan untuk Tidak Menikah Lagi

Batu gilang berfungsi sebagai prasasti ‘Penobatan’ yang dianggap suci. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda pubakala tersebut dengan menggunakan referensi Handbook of Oriental History yang dapat ditemukan hari wisuda Batara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo, yakni pada hari Ahad Pon tanggal 1 Bulan Besar, tahun 1418 saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H.

RADEN Katong bisa memimpin Ponorogo sebagai Adipati dibantu oleh Seloaji sebagai Patih dan Ki Ageng Mirah sebagai Penasehat dalam bidang agama. Empat puluh santri senior yang ia bawa ketika merintis pembukaan hutan juga membantunya. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok untuk menyebarkan Islam di tengah masyarakat di dukuh Tegal Pondok dan Irodhahan Kadipaten di utara, Asem Growong Japan di sebelah timur, Pondok Mrican di selatan, dan Durisawo di barat.

Hari berlalu dan tahun terus berganti. Selama masa pemerintahannya, Raden Katong menikahi tiga orang istri. Raden Katong bukan laki-laki yang setia, karena ia menghianati kesetiaanya dengan Niken Gandini. Ia menikahi dua orang perempuan secara bergantian, Niken
Sulastri dan Dewi Roro Kuning. Saat Batara Katong sakit keras, ia meminta kepada ketiga istrinya untuk tetap setia dengannya.
“Wahai istri-istriku, jika suatu saat aku meninggal dunia, kalian tidak aku izinkan untuk menikah lagi.”
Ketiga istrinya hanya mengangguk, kemudian Raden Katong mengucapkan sumpahnya.

“Aku bersumpah, barang siapa diantara ketiga istriku ada yang menikah lagi, jangan makamkan dia disisiku. Jangan ada masyarakatku yang berani membersihkan makamnya. Jika ada yang membersihkan, maka para gadis akan hamil tanpa sebab dan terjadi kericuhan di kota ini.”

Tidak lama kemudian, Raden Katong sakit keras dan meninggal dunia. Ia di makamkan di tepi sendang di dekat wilayah Katongan. Setelah kematiannya, Ponorogo dipimpin oleh Adipati Panembahan Agung, ia adalah keturunan dari Raden Katong. Saat mengemban tugasnya, ia dibantu oleh sang patih yang bernama Bondan Sariti. Bondan Sariti memiliki wajah yang tampan dan disukai oleh banyak perempuan, salah satunya oleh Niken Gandini. Niken menyukai Bonda Sariti karena ia sering bertemu, Bondan Sariti juga memiliki perasaan yang sama. Mereka berdua menjalin hubungan layaknya seorang kekasih. Tanpa ia sadari, ia sudah melanggar janjinya dengan Raden Katong, mereka merencanakan sebuah pernikahan.
Suatu hari menjelang pernikahannya dengan Bondan Sariti, ia jatuh sakit. Saat itulah ia teringat dengan janjinya kepada Raden Katong untuk tidak menikah lagi. Tapi, semua sudah terlambat, ajal sudah menjemputnya. Kutukan sang raden benar-benar terbukti, saat Niken Gandini akan di makamkan si sebelah makan Raden Katong jenazahnya selalu tidak muat.

Hingga Dewi Roro Kuning mengingat sumpah sang Raden, akhirnya Niken Gandini dimakamkan ditanah kelahirannya. Setelah jenazah Niken Gandini berhasil dimakankan, di atas tanah makam dan daerah sekitarnya langsung ditumbuhi rumput liar. Saat makan tersebut dibersihkan, rumput liar itu akan kembali tumbuh. Karena makam tersebut tidak bisa dibersihkan yang dalam bahasa jawa berarti tidak biasa di babad, maka daerah disekitar makan diberi nama desa Babadan. Kisah penghianatan Niken Gandini, sangat terkenal di kalangan masyarakat Ponorogo saat itu. Kisah tersebut juga membuat kedua istri Raden Katong menjadi takut untuk menghianatinya. (Anis Surya Trisanti UAD)

Read previous post:
Sektor Kesehatan Jadi Kunci Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional

Close