ASAL-USUL REOG PONOROGO (2) – Syarat Dewi Sanggalangit untuk Calon Suaminya

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo sekarang ini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singa Barong dari Kediri.

PASUKAN Raja Singa Barong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo, Raja Klono dan Wakilnya Bujang Ganong, dikawal warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan.

Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan “kerasukan” saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Mereka menganut garis keturunan parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Mengenai alur cerita Reog Ponorogo dalam salah satu versi diceritakan, bahwa zaman dahulu kala ada seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit, puteri seorang raja yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lemah lembut, maka banyak para pangeran dan raja-raja yang ingin meminangnya untuk dijadikan istri.

Dewi Sanggalangit sendiri rupanya belum berniat untuk berumah tangga. Hal ini membuat pusing orang tuanya yang sudah sangat mendambakan kehadiran seorang cucu.

“Ngger anakku cah ayu, sampai kapan kamu menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?” tanya sang Raja pada suatu kesempatan.
“Maaf Ayahanda, hamba memang belum berhasrat untuk bersuami. Namun jika Ayahanda mendesak, hamba hanya minta syarat calon suami hamba harus bisa memenuhi keinginan hamba,” jawab Dewi Sanggalangit mantap.
“Apa keinginanmu itu Anakku?”
“Saat ini hamba belum tahu…”
“Aneh sekali kamun itu.”

“Hamba ingin bersemedi lebih dahulu untuk minta petunjuk Dewa. Setelah itu hamba nanti akan menghadap Ayahanda untuk menyampaikan keinginan hamba.”
Setelah percakapan itu, selanjutnya sang putri melakukan semedi selama tiga malam. Pada hari keempat, Dewi Sanggalangit pun menghadap Ayahandanya.

“Ayahanda, hamba sudah menerima wangsit untuk calon suami hamba. Syaratnya dia harus mampu menghadirkan sebuah tontonan yang menarik. Suatu tontonan atau keramaian yang belum ada sebelumnya, bisa semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Juga dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor untuk dijadikan sebagai iringan pengantin. Dan yang terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua,” beber Dewi Sanggalangit.
“Wadu kok berat sekali syaratmu itu,” sebut sanga Raja sambil geleng-geleng kepala. (Dari berbagai sumber/*)

Read previous post:
PSG Kontrak 12 Pemain Baru

PATI (MERAPI) - Jelang gelaran Liga 2, PSG (Putra Safin Grup) Pati mulai memastikan skuadnya. Tim berjuluk Laskar Kembangjoyo ini,

Close