KISAH PANDANARUM DI PARANGGUPITO (2-HABIS) – Sangat Ramai Setelah Ada Raja Surakarta Berkunjung

Dalam perjalanan pengembaraannya, Ki Pandanarum sampi di sebuah tempat yang ada penduduknya. Meski sebenarnya agak ragu, karena warga di tempat bernama Parang itu, orang-orangnya terlihat seram dengan badan yang tegap.

KI PANDANARUM memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon elo yang sangat rindang dan berbuah lebat. Sejenak kemudian lewatlah seorang penduduk dan mereka pun kemudian bercengkerama. Orang itu bertanya kepada Ki Pandandarum, “Mengapa Ki Sanak berada di tempat ini? Kalau boleh tahu, siapakah nama Ki Sanak, dan dari manakah asal usul Ki Sanak?”

Ki Pandanarum pun menjawab dengan kata-kata yang halus dan sangat santun. “Terima kasih Ki Sanak, sebut saja saya Pandanarum. Hamba dari Mataram, datang kemari hanya melaksanakan petunjuk Hyang Widhi.”

Setelah beberapa saat bercakap-cakap, akhirnya Ki Pandanarum pun diterima kehadirannya di kampung tersebut. Berkat keramahtamahannya, Ki Pandanarum akhirnya bisa berbaur dengan warga sekitar masyarakat Parang, yang semula terlihat seram-seram, sangar, dan sakti mandraguna. Kala itu sebagian besar masyarakat Parang memang masih melestarikan ilmu kanugaran, joyo kawijayan, peninggalan dari seorang pengelana Majapahit, yaitu Ki Curocono.

Pada saat beramah tamah, Ki Pandanarum dengan arif dan bijaksana menyampaikan kawruh ilmunya. Antara lain agar masyarakat tahu tentang hakekat hidup dan kehidupan. Bersikap santun, ramah, guyub rukun, serta asih kepada sesama. Selama tinggal, Ki Pandnarum tidak pernah menetap di rumah penduduk, karena tiap malam beliau memilih tinggal di gubug-gubug milik petani di tengah ladang. Itupun dilakukan setelah memohon izin kepada pemiliknya. Ki Pandanarum tak ingin merepotkanorang.

Suatu malam yang sunyi, Ki Pandanarum merenung dan dalam hati kecil berkata, “Ternyata dugaanku keliru, warga masyarakat sekitar sini yang tampaknya galak-galak ibarat tajamnya parang, tapi ternyata mau dan bisa ditata dan diatur”.

Setelah dari Parang, Ki Pandanarum berjalan ke arah selatan. Sampailah Ki Pandanarum di sebuah pantai yang penuh dengan rumput menjalar. Rumput itu ternyata bisa digunakan sebagai obat yang bernama tanaman sembukan.

Kala itu Ki Pandanarum belum tahu nama pantai tersebut. Menjelang tengah malam Ki Pandanarum pergi ke puncak bukit sebelah barat pantai yang sekarang menjadi pantai Sembukan. Di atas batu pelataran di puncak bukit itu Ki Pandanarum bersemadi untuk memohon ampunan atas kesalahannnya, juga memohon petunjuk apa yang harus dilakukan. Tempat tersebut sekarang telah dibangun sebuah pelataran.

Menjelang pagi, Ki Pandanarum mendapatkan bisikan kalbu, bahwa kelak setelah ada raja Surakarta berkunjung ke tempat ini, Parang dan sekitarnya akan menjadi tempat sangat penting dan ramai. Ternyata bisikan ini menjadi8 kenyataan. Saat ini Kecamatan Paranggupito banyak dikunjungi warga, terutama untuk berwisata di Pantai yang ada di Paranggupito karena keindahan dan keelokannya. (*)

Read previous post:
Vaksinasi Covid-19 Sasaran Lansia Dimulai

SUKOHARJO (MERAPI) - Pemkab Sukoharjo resmi memulai pelaksanaan program vaksinasi virus Corona dengan sasaran lanjut usia (lansia). Kegiatan dimulai di

Close