KALAGEMET BERGELAR SRI JAYANEGARA (8-HABIS) – Gayatri Menyerahkan Kekuasaan pada Tri Buwana Tunggadewi

Dheg. Baginda raja hatinya seperti kandheg, perasaannya setengah kaget demi mendengar nama Sri Wulan Sendari. Beliau teringat ketika diungsikan oleh Gajah Mada ke rumah Ki Buyut Badander saat di kerajaan terjadi pemberontakan.

SELAMA dua hari tinggal di rumah Ki Buyut Badander beliau berkenalan dengan seorang wanita cantik yang berumah tinggal di belakang rumah Buyut Badander tersebut . Akhirnya Sang Prabu jatuh demen dengan wanita tadi. Ia sudah dipanggil ke Istana berkali-kali dan diajak berasyik masyuk di kamar Purbayeksan. Namun mengapa Sri Wulan Sendari tidak pernah bercerita kalau dirinya istrinya Rakrian Tanca si tabib ini?

Tanpa sesadarnya Kanjeng Prabu tersenyum sendiri mengingat adegan syuurrr juga pernah di lakukannya bersama Sri Wulan Sendari.
“Kenapa Sang Prabu tersenyum?”, tanya Rakrian Tanca memandangi tajam wajah Sang Prabu yang tidur tertelentang.
“Tidak apa-apa, hanya senyum-senyum saja!”.
“Apa teringat adegan ketika main asmara dengan Sri Wulan Sendari istriku?”.
“Tidak! Sudahlah segera obati wudunku!”, perintah Sang Prabu.

Dengan gerakan yang cepat Rakrian Tanca mengambil pisau belati yang tersisip di balik bajunya.
“Ini obat wudun bagi seorang raja yang suka menggoda istri orang lain!”, dengan kekuatan penuh Rakrian Tanca menikam dada penguasa Majapahit itu.
“Aaaahh…” terdengar keluhnya yang panjang lalu menghembuskan nafas yang terakhir.

Seketika kraton Majapahit jadi kalang kabut, heboh. Prajurit-prajurit bhayangkara yang bertugas menjaga keselamatan Raja dan keluarganya segera menyebar ke segala penjuru untuk mengepung sang pembunuh jangan sampai melarikan diri.
Rakrian Tanca grogi dan bingung, mau lari ke mana? Semua pintu sudah dijaga prajurit.

Mau ndhekem di Taman Keputren jangan-jangan nanti malah diteriakin para putri yang ada di situ. Dalam keadaan kebingungan tak tahu kemana harus pergi inilah akhirnya bekel bhayangkara Gajah Mada memergokinya dan menangkap Rakrian Tanca sekaligus membunuhnya. Dengan kejadian ini maka berakhirlah pemerintahan Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara sebagai raja ke dua Kerajaan Majapahit (1309-1328).
Karena Kanjeng Prabu Sri Jayanegara tidak berputra meski sudah berkali-kali indehoi dengan beberapa wanita. Maka kekuasaan Kerajaan Majapahit dikembalikan kepada Ibunda Gayatri sebagai permaisuri Raden Wijaya pendiri atau raja pertama Majapahit.

“Maafkan aku, aku tidak bisa menerima amanat ini. Aku sudah tua dan aku lebih memilih menjadi Biksuni daripada jadi Ratu. Kekuasaan Kerajaan Majapahit serahkanlah kepada putriku tertua Tri Buwana Tunggadewi”, kata Ibunda Gayatri Tribuwana Tunggadewi tidak bisa menolak lalu diangkat menjadi Raja ketiga Kerajaan Majapahit (1828-1350). Dalam menjalankan roda pemerintahannya Ratu cantik ini dibantu oleh Kertawardhana suaminya dan Patih Gajah Mada.

Kanjeng Ratu Tribuana Tunggadewi kemudian melantik Patih Gajah Mada. Dalam upacara pelantikan Gajah Mada sebagai Mahamantrimuka Rakryan Mahapatih menggantikan Arya Tadah yang menyerahkan jabatan karena sudah sepuh. Gajah Mada mengucapkan Tan Amukti Palapa (sumpah palapa) “Saya tak akan merasakan buah Palapa sebelum Nusantara seperti Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Sunda, Bali, Palembang, Tumasik (Singapura) di bawah kekuasaan Majapahit”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Satpol PP Siap Berjuang Lawan Covid-19

BANTUL (MERAPI) - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Bantul, Yulius Suharta SSos MSi menyatakan akan terus berjuang

Close