KALAGEMET BERGELAR SRI JAYANEGARA (6) – Istri Tanca Berkali-kali Dipanggil Sang Raja

Rakyat hidup tenteram, damai, dan bahagia. Lantaran situasi yang mendukung semua warga bisa berkarya, tukang pandhe besi mulai menyalakan perapiannya membakar besi untuk ditempa menjadi alat-alat pertanian, suara orang menenun kain juga mulai terdengar di desa-desa, para peternak menggembalakan kambing, kerbau atau sapinya di padang rumput atau di pinggiran kali yang sejuk berair jernih.

RAKRIAN Tanca seorang Dharmaputra sekaligus seorang Tabib juga mulai dikunjungi warga masyarakat yang ingin berobat karena menderita sakit. Penyakit-penyakit ringan maupun berat beliau bisa menangani dengan baik. Nama Rakrian Tanca sudah terkenal di seantero Majapahit sebagai tabib mumpuni. Bahkan beliau juga sebagai Tabib canduk, yaitu tabib yang menggunakan sistem pengobatan membedah atau mengeluarkan darah kotor yang menimbulkan rasa sakit.

“Rakrian Tanca, aku datang bukan untuk berobat”, kata Rakrian Janatanu sambil tertawa.
Rakrian Tanca tertawa pula menyambut kedatangan sahabat karibnya sesama Dharmaputra.
“Bagaimana kabarmu selama kita tidak ketemu?”.
“Baik-baik saja. Doaku semoga kau baik-baik juga”, jawab Rakrian Janatanu.
“Betul. Aku baik-baik selama ini. Apa ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?”

“Sebelumnya maafkan aku, aku hanya ingin memberitahumu bahwa istrimu Sri Wulan Sendari sudah berkali-kali dipanggil Sang Raja ke Istana”, kata Rakrian Janatanu.

“Hmmm, istriku tidak bilang apa-apa kepadaku?. Apakah ada kesalahan sehingga istriku dipanggil oleh Kanjeng Prabu Sri Jayanegara?”.
Rakrian Janatanu tersenyum, “Ststststttt, bukan soal kesalahan istrimu dipanggil tapi soal kebenaran. Benar, Kanjeng Prabu Sri Jayanegara mulai suka menggoda. Di Prabayeksan istrimu dicolak-colek, dipijiti ujung dagunya, lalu dipeluk dari belakang kenceng-kenceng. Istrimu menjerit kalem, lalu melendhot manja. Sang Prabu mencium rambut istrimu yang wangi, lalu istrimu menoleh ndangak di dada sang Prabu. Lelaki yang dahulu bernama Kalagemet itupun tidak menyia-nyiakan kesempatan, diciumnya kening istrimu dan Sri Wulan Sendari tersenyum”.

“Kodhisik, kodhisik, kodhisik!. Rakrian Janatanu, apakah istriku juga mau digituin?”, sela Rakrian Tanca minta penjelasan karena mulai panas hatinya.
“Wanita mana yang tidak mau dipeluk Raja? Jangankan cuma diciumin dihamilinpun mereka bersyukur mendapat anak keturunan Raja bakalan membawa berkah yang banyak?”

“Hmmm, betul-betul Kucing gandhik istriku itu!” maki Rakrian Tanca mendengar berita dari sahabatnya tadi, “Eh, Rakrian Janatanu. Ceritamu ini sungguh-sungguh terjadi kan?”.
“He.eh. Kalau kamu bukan sahabatku aku tidak akan menceritakan seperti ini. Sebab bercerita tentang rahasia Raja itu besar risikonya, bisa dipidana pati?”

“Huh! Akan aku hajar istriku nanti”, Rakrian Tanca getem-getem.
“Jangan! Istrimu itu punya kemampuan memadai. Lagi pula ia anaknya Tumenggung Donoloyo, kau bisa dipenggal lehernya jika grusah-gusruh kepada anak gadisnya?”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Usai Vaksinasi, Terjun ke Lokasi TMMD

TEMANGGUNG (MERAPI) - Sebanyak 200 Bintara Pembina Desa (Babinsa) Komando Distrik Militer (Kodim) 0706 Temanggung menjalani vaksinasi sebagai langkah menanggulangi

Close