KALAGEMET BERGELAR SRI JAYANEGARA (5) – Gajah Mada Berhasil Menumpas Pemberontakan

Tahun 1319 pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti merupakan pemberontakan yang cukup berat bagi Majapahit. Karena Kuti dan pasukannya berhasil memasuki kraton, untung saja seorang Bekel Bhayangkara bernama Gajah Mada yang sedang berjaga berhasil menyelamatkan Prabu Sri Jayanegara beserta keluarganya ke rumah Buyut Badander.

“THOK, THOK, THOK!”, Gajah Mada mengetuk pintu rumah Buyut Badander yang dengan serta merta membukakan pintu, “Oh. Kamu Gajah? Ngapain?”, tanya orang tua itu.

“Ki Buyut, di Kerajaan datang para pemberontak yang dipimpin Rakrian Kuti. Aku kemari mengajak Sang Prabu dan keluarganya agar mereka bersembunyi di rumahmu. Paham?”, kata Gajah Mada.

“Pa pa paham. Ya ya ya, Sang Prabu agar tinggal di rumahku. Tetapi rumahku banyak nyamuknya”, jawab Ki Buyut Badander.
“Aaakh, jangan repot dengan nyamuk!. Sudahlah Sang Prabu dan keluarganya aku tinggal di sini”.
“He.eh, he.eh, tinggalen!”

“Kanjeng Prabu, untuk sementara bersembunyilah di sini! Aku akan segera menyelesaikan Rakrian Kuti yang mengamuk di Keraton tadi!”, kata Gajah Mada.
“Terima kasih, Gajah. Silakan kamu pergi!”, jawab sang Prabu Sri Jayanegara.

Sejak saat inilah nama Gajah Mada moncer di lingkungan Kerajaan Majapahit sebagai prajurit yang mumpuni.
Keberhasilan prajurit Majapahit di bawah pimpinan Bekel Bhayangkara Gajah Mada menumpas semua pemberontakan sangat dihargai oleh raja.

Mereka mendapatkan ganjaran dan hadiah yang setimpal dengan perjuangan mereka masing-masing. Ternyata bekel bhayangkara yang bernama Gajah Mada itu betul-betul dapat memanfaatkan jumlah prajurit Majapahit yang masih banyak serta memiliki kemampuan maksimal itu.

Kini kehidupan di Kerajaan Majapahit dari waktu ke waktu berangsur-angsur membaik, kedamaian dan ketentraman sedikit demi sedikit tercipta. Pemerintahan Kalagemet atau Sri Jayanegara makin tertata. Kehidupan keluarga Kerajaanpun makin ayem tentrem tidak lagi saling mencurigai satu sama lain. Sang Prabu sendiri berusaha memberikan kedudukan-kedudukan yang wajar kepada semua sentana dalem dan diminta untuk tidak saling iri yang akhirnya menimbulkan permusuhan diantara mereka sendiri.

Rakyat Majapahit mulai berani berbondong-bondong pergi ke sawah atau ladang untuk mengolah tanah, menanaminya dengan tanaman pangan yang merupakan kebutuhan sehari-sehari.

Angin pagi serasa mulai berhembus sepoi-sepoi seger dan menjadi hangat bersamaan dengan menebarnya sinar matahari ke bumi. Di dahan-dahan pepohonan burung-burung berkicau dengan nyanyian sebisanya menciptakan suasana pagi yang meriah.

Begitulah gambaran suasana yang menyenangkan di wilayah Kerajaan Majapahit. Rakyat hidup tenteram, damai, dan bahagia. Lantaran situasi yang mendukung semua warga bisa berkarya, tukang pandhe besi mulai menyalakan perapiannya membakar besi untuk ditempa menjadi alat-alat pertanian, suara orang menenun kain juga mulai terdengar di desa-desa, para peternak menggembalakan kambing, kerbau atau sapinya di padang rumput atau di pinggiran
kali yang sejuk berair jernih. (Akhiyadi)

Read previous post:
Hilang di Perairan Banyutowo, Nelayan Cihaur Ditemukan Meninggal Dunia

PATI (MERAPI) – Seorang nelayan asal Cihaur Majalengka Jabar, Lukman Hidayat (41) yang hilang di perairan Banyutowo kecamatan Dukuhseti, Pati

Close