KALAGEMET BERGELAR SRI JAYANEGARA (7) – Tanca Diminta Mengobati Sakit Wudun Raja

Rakrian Tanca masarh besar mendengar cerita istrinya berain mata dengan sang raja. Ia ingin menghajar istrinya itu, namun diingatkan Rakrian Janatanu lantaran sang istri punya kemampuan memadai. Lagi pula ia anaknya Tumenggung Donoloyo, sehingga bisa dipenggal lehernya jika grusah-gusruh kepada anak gadisnya.

SUDAH sepekan Sang Prabu Sri Jayanegara menderita sakit Wudun (bisul). Dua buah wudun ngendon ditubuhnya, satu di bagian bawah wudel beliau dan satunya lagi di pantat sebelah kanan.

Setiap kali sang Baginda Raja mengaduh sambil ngiyes-ngiyes kesakitan. Bahkan untuk sekedar duduk di dampar kencana saja pantatnya harus diingar-inger, dipapan-papanke agar tidak terasa sakit, senut-senut.

Untungnya Emban yang setia meladeninya bisa membuat ramuan khusus yang bila diminum dapat mengurangi rasa sakit.
“Emban Tia, apa kamu sudah membuat ramuan? Jika belum segeralah membuatnya ini wudonku bener-bener senut-senut sakit sekali”.
“Sudah Kanjeng Prabu. Sebentar aku ambilkan”, jawab Emban Tia bergegas mengambil ramuan yang tadi dibuatnya.
Sesudah diambilkan ramuan tadi Kanjeng Prabu segera meneguknya habis sampai tetes terakhir, tanpa sisa sama sekali.
“Emban Tia, kamu pintar membuat ramuan belajar dari siapa?”, tanya Kanjeng Prabu.
“Rakrian Tanca yang mengajariku”.
“Apa dia juga seorang tabib?”.
“Ya”.

“Suruh dia datang kemari untuk mengobati sepasang wudunku ini!”, perintah Kanjeng Prabu Kalagemet alias Prabu Sri Jayanegara itu.
“Sendika dhawuh, Kanjeng Prabu”, jawab Emban Tia segera lengser dan pergi ke rumah Tabib Rakrian Tanca.
Pucuk dicinta ulam tiba. Mengharapkan kesempatan yang kecil, rumit, dan sulit kini justru kesempatan besar dan mudah datang tiba-tiba.
“Ya, Emban. Aku segera datang ke Kraton menghadap Kanjeng Prabu”, jawab Rakrian
Tanca tersenyum senang ketika Emban Tia mengatkan permintaan Kanjeng Prabu.

Penyakit Wudun memang bukan penyakit berat namun sungguh menyiksa siang dan malam rasanya bukan main tersiksanya, senut-senut, kemeng, dan sakit sekali.
“Rakrian Tanca, kamu sanggup mengobati wudunku?”, tanya sang Prabu tatkala melihat kedatangan tabib itu.
“Sanggup, Sang Prabu. Di manakah letak wudun paduka?”.
“Di dekat wudel sini dan satunya lagi di pantat”.

“Hamba adalah Tabib canduk yang mengobati dengan sistem pembedahan kemudian mengeluarkan darah kotor”, Rakrian Tanca menjelaskan sambil meminta Baginda Raja Kalagemet tidur menelentang.
“Rumahmu di mana, Rakrian Tanca?” tanya Baginda Raja.
“Aku menyewa sebidang tanah di belakang rumah Ki Buyut Badander dan mendirikan pondok kecil di situ bersama istriku, Sri Wulan Sendari.”

Dheg. Baginda raja hatinya seperti kandheg, perasaannya setengah kaget demi mendengar nama Sri Wulan Sendari. Beliau teringat ketika diungsikan oleh Gajah Mada ke rumah Ki Buyut Badander saat di kerajaan terjadi pemberontakan. (Akhiyadi)

Read previous post:
Tabrakan Naik Motor, Mahasiswi Hilang Ingatan

Close