KALAGEMET BERGELAR SRI JAYANEGARA (4) – Situasi Politik di Kerajaan Tidak Stabil

Patih Lembu Sora memaki sambil terpaksa membenturkan senjatanya yang berupa tombak pendek itu dengan senjata Gagak Bongkol. Mereka sama-sama mengaduh menahan getaran benturan kedua senjata tadi yang amat perih di telapak tangan mereka masing-masing.

PATIH Lembu Sora mengerti, bahwa ilmu kanuragan Gagak Bongkol sudan jauh meningkat dari pada dulu. Tentu ini karena ketekunannya berlatih di Padhepokan Gunung Wijil dibawah asuhan Eyang Panembahan Saroja Kusuma.

Patih Lembu Sora membalas menyerang dengan gerakan cepat yang hampir sulit diikuti pandangan mata. Ujung tombaknya meluncur dengan derasnya ke arah dada lawannya, Gagak Bongkol mencoba menghindari dengan merendahkan dirinya. Namun secepat itu pula ujung tombak tadi menggeliat dan ujungnya menyambar pundaknya. Gagak Bongkol mengaduh menahan sakit, darah mengucur deras. Dia menyadari, ujung tombak itu mengandung warangan yang mematikan. Maka dengan sisa tenaganya dia meraba pinggangnya, melolos sebuah pisau belati dan dengan sekuat-kuat tenaganya dilemparkan ke arah dada Patih Lembu Sora yang berdiri tak jauh darinya.

Patih Lembu Sora yang kurang waspada karena sudah berhasil menjatuhkan lawannya itu tiba-tiba mengaduh, dia meraba tangkai belati yang menancap di dadanya. Dia terhuyung-huyung, lalu jatuh tak berdaya. Kemampuan Gagak Bongkol melemparkan sejata rahasianya inilah yang tidak diduga oleh Patih Lembu Sora. Akhirnya kedua orang sakti itupun meregang nyawa bersama-sama.

Perang tanding yang imbang tidak ada kalah menang karena kedua belah pihak sama-sama gugur. Hal itu menyebabkan situasi politik di Kerajaan Majapahit semakin tidak karuan.

Masing-masing dari mereka yang memiliki kedudukan saling mengintai, saling mencurigai, dan akan saling berebut posisi-posisi yang menguntungkan bagi dirinya dengan saling menyikut sana menyikut sini. Yang kira-kira bakal menjadi klilip segera disingkirkan dan sekiranya akan menguntungkan bisa dijadikan prajuritnya cepat-cepat dirangkul.

Dengan situasi seperti itu maka berturut-turut di Majapahit terjadi pemberontakan-pemberontakan. Tahun 1313 terjadi pemberontakan Gajah Biru, pemberontakan Juru Demung.
Lalu setahun berikutnya 1314 terjadi pemberontakan Maudana dan pemberontakan Wagol.

Berikutnya pada Tahun 1316 Nambi (Patih Mangkubumi) Majapahit memberontak bersama ayahnya Adipati Wiraraja. Mereka berdua membuat benteng pertahanan di Pejarakan dan Lumajang. Namun mereka dapat dikalahkan oleh Prajurit-prajurit Majapahit bahkan Nambi, ayahnya, berikut seluruh keluarganya ditumpas habis.

Tahun 1319 pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti merupakan pemberontakan yang cukup berat bagi Majapahit. Karena Kuti dan pasukannya berhasil memasuki kraton, untung saja seorang Bekel Bhayangkara bernama Gajah Mada yang sedang berjaga berhasil menyelamatkan Prabu Sri Jayanegara beserta keluarganya ke rumah Buyut Badander. (Akhiyadi)

Read previous post:
PSS Belum Rancang Anggaran untuk Piala Menpora

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Piala Menpora dipastikan bergulir 21 Maret 2021. Bandung, Malang, Solo, dan Sleman ditunjuk jadi tuan rumah

Close