KALAGEMET BERGELAR SRI JAYANEGARA (3) – Rencana Pemberontakan Diketahui Prajurit Bhayangkara

Kasak-kusuk di lingkungan Kraton pun mulai terdengar, banyak yang menganggap Raja mulai sewenang-wenang, nggugu karepe dhewe. Mestinya kepada putri-putri keturunan raja itu bersikap lemah lembut penuh kasih sayang, bukan malah mengancam! Kalaupun beliau berhasil menyiksa kedua putri itu wajar? Toh mereka wanita yang secara fisik tak berdaya?

DEMIKIANLAH di antara sekian banyak caci maki yang terlontar untuk menjelekkan Sang Prabu yang dianggapnya tidak bijak itu. Patih njero mulai bicara sinis tentang sang Prabu yang menurutnya sangat tidak layak naik tahta. Bahkan ketika penghargaan Dharmaputra Winehsuka diberikan oleh Sang Prabu kepada mereka-mereka yang dinilai sangat berjasa kepada kerajaan.
Di antara yang memperoleh penghargaan tersebut adalah Rakrian Kuti, Pangsa, Tanca, Banyak, Wedeng, Yuyu, dan Semi.

Hal ini menimbulkan keirihatian di antara para pejabat kerajaan yang tidak mendapatkan Dharmaputra Winehsuka. Padahal mereka merasa sudah maksimal berjuang untuk kepentingan Majapahit termasuk berperang melawan pemberontak-pemberontak yang berkali-kali merongrong kewibawaan Kerajaan.

“Ini namanya ketidakadilan. Raja benar-benar tidak melihat dengan mata kepala sendiri melainkan hanya berdasarkan laporan bawahannya”, gerutu Lembu Sora. Patih njero ini mengerti jika dirinya difitnah oleh beberapa orang yang dekat dengan Raja dan tidak senang kepadanya.

Dia kemudian mengajak bala prajurit kepercayaannya keluar dari lingkungan keraton.
Mereka menyusun kekuatan untuk melawan pemerintahan Sang Prabu Sri Jayanegara. Naas baginya, belum lagi tersusun kekuatan yang memadahi sudah ketahuan prajurit Bhayangkara pengawal Raja dan seluruh keluarga kraton.
“He, Kakang Lembu Sora. Kau sedang menyusun kekuatan untuk mbalelo kepada Baginda Raja?”, tanya Gagak Bongkol salah seorang prajurit Bhayangkara Majapahit.
“Ya. Kenapa? Kau mau ikut aku?”.

“Persetan. Seorang prajurit bhayangkara tidak akan mengkhianati sumpah prajurit yang pernah diucapkannya sendiri. Ayo bersiaplah menghadapiku!”, Gagak Bongkol menantangnya sambil mengacungkan senjatanya.

Patih Lembu Sora tersinggung lantaran ditantang bekas anak buahnya. Perang tandhingpun terlaksana di Alun-alun. Para prajurit baik anak buah Patih Lembu Sora maupun prajurit kawan-kawannya Gagak Bongkol berdiri berjajar di Alun-alun. Mereka membentuk sebuah lingkaran besar untuk menyaksikan perang tanding antara dua orang pemuka prajurit Bhayangkara Kerajaan Majapahit yang tengah berselisih itu.
“Apa kau sudah siaga, Kakang Lembu Sora?”, tanya Gagak Bongkol. Kaki kanannya siap untuk mancal mendorong maju tubuhnya, meloncat sambil menjulurkan senjatanya.
“Lakukan apa yang akan kau lakukan!”, jawab Patih Lembu Sora.

Gagak Bongkol benar-benar melakukan loncatan cepat sambil menjulurkan senjatanya ke arah dada lawannya. Sedangkan Patih Lembu Sora yang menahan amarah di dalam dadanya itu berusaha meloncat mundur menghindari serangan lawan sambil memukul senjata yang terjulur ke dadanya.
“Ternyata kau masih hebat, Kakang Lembu Sora?”, lawannya memujinya. Namun dia kemudian merubah arah serangan berikutnya. Pedangnya yang besar dan berat itu terayun datar mengarah lambung.

“Kurang ajar!”, maki Patih Lembu Sora terpaksa membenturkan senjatanya yang berupa tombak pendek itu dengan senjata Gagak Bongkol. Mereka sama-sama mengaduh menahan getaran benturan kedua senjata tadi yang amat perih di telapak tangan mereka masing-masing. (Akhiyadi)

Read previous post:
Cegah Kerumunan, Pemakaman Ustaz Sukina Diajukan dan Dipersingkat

KARANGANYAR (MERAPI) - Pemakaman pimpinan pusat majelis tafsir Al Quran (MTA) Ahmad Sukina di Permakaman Muslim Kaliboto, Mojogedang berprotokol kesehatan

Close