CAHAYA CINTA PUTRI ONG TIEN (5-HABIS) – “Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin”

Dengan bijaksananya Sunan Gunung Jati menasihati istrinya bahwa keikhlasanlah merupakan bentuk cinta yang sesungguhnya kepada buah hatinya. Sunan Gunung Jati tak henti-hentinya memohon petunjuk pada Gusti Allah. Beliau kemudian mengusulkan Pangeran Kemuning untuk diangkat menjadi bagian keluarga.

PUTRI Ong Tien Pun menerima usulan Sunan Gunung Jati. Pangeran Kemuning diangkat anak sejak masih bayi. Ia merupakan putera dari Ki Gedeng Luragung. Pangeran Kemuning diberi nama oleh Sunan Gunuung Jati, yaitu Sang Adipati. Tidak lama kemudian Sunan Gunung Jati bersama Ong Tien dan putra angkatnya berangkat menuju Kajene. Pada saat itu yang menjalankan pemerintahan Kajene adalah Pangeran Aria Kamuning.

Kedatangan Sunan Gunung Jati bersama para rombongan disambut baik oleh Pangeran Aria Kamuning dan penduduk Kajene. Sunan Gunung Jati pun berdakwah di Kajene hingga pada akhirnya Pangeran Aria Kamuning memutuskan masuk Islam. Beberapa penduduk pun mengikuti keputusan Pangeran Aria Kemuning untuk mememluk agama Islam. Hubungan kekerabatan terjalin baik dengan Pangeran Aria Kemuning.

Sembari mengurus putranya, Putri Ong Tien pun mendampingi Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran agama Islam. Berbagai upaya telah mereka lakukan bersama untuk mengembangkan Islam. Mulai dari perdagangan, politik, hingga penaklukan wilayah. Sunan Gunung Jati juga dikenal menyebarkan agama melalui kebudayaan. Beliau menggunakan gamelan sebagai media penyebaran Islam.

Karena sifat welas asih yang dimiliki Sunan Gunung Jati beliau pun berhasil mengubah kebiasaan orang-orang membaca mantra menjadi doa-doa Islami. Beliau juga berpesan kepada masyarakat untuk menjalankan nasihatnya “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” yang artinya masyarakat dianjurkan untuk selalu memelihara masjid dan memelihara fakir miskin.

Empat tahun membersamai Sunan Gunung Jati tibalah Putri Ong Tien kembali kepada Sang Pencipta. Sunan Gunung Jati sangat terpukul istri yang dicintainya pergi begitu cepat. Saking cintanya pada istrinya beliau menulis syair cinta yang di tulis pada keramik peninggalan Putri Ong Tien yang diletakkan pada komplek pemakaman. Sampai saat ini isi syair tersebut masih menjadi misteri.

Saking cintanya kepada Putri Ong Tien setiap kali Sunan Gunung Jati mengajar mengaji ia sembari memandangi makam Putri Ong Tien. Keramik dan barang bawaan Putri Ong Tin pun tersimpan rapih. Jika berkunjung ke komplek pemakaman akan terlihat berbagai barang peninggalan putri Ong Tien seperti guci, piring ada pula gentong Cina yang difungsikan sebagai tempat wudu, pajangan, bahkan lukisan dinding.

Sunan Gunung Jati pun memutuskan menitipkan Sang Adipati kepada Pangeran Aria Kamuning untuk dididik dengan baik. Selama Sang Adipati belum dewasa, maka Pangeran Aria Kamuning ditunjuk oleh Sunan Gunung Jati sebagai Kepala Pemerintahan Perwalian di Kajene dibawah Kerajaan Cirebon.
“Aku percayakan Adipati padamu didiklah ia menjadi pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab.”
“Saya akan berusaha menjalankan amanah Tuan.”

Untuk mengenang sejarah akulturasi Islam di Cirebon kini etnis Tionghoa menggelar Grebeg Ngunjung. Salah satu kegiatannya yaitu mengunjungi makam Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien mempunyai pengaruh besar dalam akulturasi budaya. Dalam dunia arsitektur, interior ruang di Cirebon selalu melekat dengan gaya arsitek Cina. (Iis Suwartini UAD)

Read previous post:
MERAPI-ANTARA Ilustrasi awan panas guguran Gunung Merapi.
LAJU PERTUMBUHAN DINILAI MASIH KECIL-Gunung Merapi Kini Punya 2 Kubah Lava

Close