CAHAYA CINTA PUTRI ONG TIEN (4) – Bermuram Durja Setelah Bayinya Meninggal

Pada suatu ketika Syekh Maulana Akbar pun tutup usia dan dimakamkan di Astana Gede. Berdasarkan cerita tersebutlah Sunan Gunung Jati
datang ke Kajene ingin meneruskan perjuangan Syekh Maulana Akbar. Sebelum menuju Kajene ia pun singgah di Luragung dan bertemu Ki Gedeng Luragung sebagai kepala pemerintahan.

SUNAN Gunung Jati berkeyakinan kuat bahwa hijrahnya ke Kajene merupakan jalan yang terbaik meskipun ia tidak sampai hati meningalkan Putri
Ong Tien. Perjuangan dan kegigihan Putri Ong Tien dalam memeperjuangkan cintanya pun akhirnya terbayarkan. Berbulan-bulan lamanya mengarungi samudera dengan hantaman ombak yang dahsyat tak menyurutkan niatnya, kini ia tiba di Luragung. Sunan Gunung Jati tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan ribuan prajurit dari Cina.

“Apa gerangan yang membawa kalian kemari?”
“Kedatangan kami kemari di utus oleh kaisar untuk mendampingi Putri Ong Tien.”
Mendengar perkataan tersebut perasaan Sunan Gunung Jati mengaharu biru. Perempauan yang selama ini ia sebut dalam doanya kini berada di
hadapannya. Putri Ong Tien merupakan gadis yang cantik jelita dan berperilaku santun. Semenjak pertama kali melihatnya hatinya pun bergetar melihat pesona yang dipancarkan Putri Ong Tien. Siapa sangka karena peristiwa perjamuan yang tak masuk di akal itu menghantarkan Putri Ong Tien kehadapannya.

Pengorbanan Putri Ong Tien baginya adalah wujud cinta sejati. Putri Ong Tien rela meninggalkan orang tua juga sanak famil serta kemegahan istana.
Belum lagi ia harus menempuh perjalanan jauh terombang ambing di lautan selama berbulan-bulan. Akhirnya mereka berdua pun melangsungkan
pernikahan setelah Putri Ong Tien menjadi mualaf. Ia pun diberi nama Ratu Mas Rara Sumanding.

Hari demi hari dijalani dengan penuh cinta kedua pasangan tersebut berjuang bersama menyebarkan ajaran agama Islam. Beberapa tentara putri Ong Tien pun menganut ajaran agama Islam tanpa paksaan. Putri Ong Tien beserta prajuritnya dapat membaur dengan masyarakat setempat.

Tidak lama kemudian Putri Ong Tien melahirkan, semua penduduk menyambutnya dengan suka cita. Namun malang tak dapat dielak bayi Putri Ong
Tien tidak bertahan lama. Bayi tersebut meninggal di usia 4 bulan. Putri Ong Tien pun sangat terpukul. Melihat istrinya bermuram durja Sunan Gunung Jati tak sampai hati melihat penderitaaan Putri Ong Tien berlarut-larut. Ia selalu mencoba menghibur Putri Ong Tien namun tidak berhasil.

“Dinda apa yang dapat Kanda lakukan untuk menhilangkan kesedihanmu?”
“Kanda aku sangat ingin menimang anak namun belum sempat kucurahkan seluruh kasih sayangku ia sudah lebih dahulu pergi
meninggalkan kita.”
Dengan bijaksananya Sunan Gunung Jati menasihati istrinya bahwa keikhlasanlah merupakan bentuk cinta yang sesungguhnya kepada buah hatinya.

Putri Ong Tien pun berusaha menghapus kesedihannya dengan sekuat tenaga.
Sunan Gunung Jati tak henti-hentinya memohon petunjuk pada Gusti Allah.
“Dinda jikalau tidak keberatan bagimana jika Pangeran Kemuning kita angkat menjadi bagian keluarga kita.”
“Sungguhkah yang Kanda katakan?” (Iis Suwartini UAD)

Read previous post:
Budi Santoso Ditunjuk Plh Bupati Sukoharjo

SUKOHARJO (MERAPI) - Budi Santoso resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Bupati Sukoharjo setelah pejabat sebelumnya Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya

Close