CAHAYA CINTA PUTRI ONG TIEN (3) – Syekh Maulana Akbar Mendirikan Pesantren di Sidapurna

Dengan berbagai pertimbangan Kaisar menyetujui permintaan Putri Ong Tien. Akhirnya Putri Ong Tien Pun pergi menyusul Suanan Gunung Jati ke Cirebon dengan dikawal ribuan pengawal kerajaan dari Dinasti Ming. Perjalanan cinta Putri Ong Tien pun dimulai. Samudera menjadi saksi betapa dalammnya cinta Putri Ong Tien kepada Sunan Gunung Jati.

SEKEMBALINYA Sunan Gunung Jati dari negeri tirai bambu ia pun meraskan hal yang sama seperti yang dirasakan Putri Ong Tien. Sunan tidak ada
pilihan lain selain kembali ke Cirebon untuk berdakwah. Kuningan menjadi tempat tujuan bermukim Sunan Gunung Jati kala itu. Kedatangan Sunan Gunung Jati ke Kuningan tentulah karena suatu sebab.

Berikut kisah yang melatarbelakangi kedatangan Sunan Gunung Jati ke Kerajaan Kuningan.
Alkisah pada masa kepemimpinan Seuweukarma sebagai raja Kerjaaan Kuningan yang diberi gelar Rahiangtang Kuku. Kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan yang cukup disegani. Pada masa itu kerajaan Kuningan menganut ajaran “dangiang kuning” yang berpegang kepada “sanghiang darma” dan “sanghiang siksa.” Ajaran dangiang kuning memiliki 10 pedoman hidup yaitu: tidak membunuh mahluk hidup, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak mabuk, tidak makan bukan pada waktunya, tidak menonton pertunjukan seperti menari dan menyanyi, tidak bermain musik, serta tidak hidup mewah.

Seuweukarma bertahta cukup lama hingga akhirnya timbul persaingan antara pemerintahan Seuweukarma dengan Sanjaya yang memegang kekuasaan daerah Kerajaan Galuh sebelah timur. Selama 9 tahun Sanjaya memerintah Kerajaan Kuningan. Selama kepemimpinan sanjaya ia selalu berusaha mensejahterakan rakyatnya. Usai masa kepemimpinan Sanjaya kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Rahiang Tamperan. Usai Rahiang Tamperan memimpin kerajaan kemudian digantikan oleh putranya. Rahiang Tamperan mempunyai 2 (dua) orang putra yaitu Sang Manarah dan Rahiang Banga. Sang Manarah menjadi raja di sebelah timur. Sedangkan Rahiang Banga menguasai daerah Kuningan yang dahulu di bawah kekuasaan Rahiangtang Kuku. Tidak lama kemudian Kuningan menjadi bagian dari Kerajaan Pajajaran dan namanya berganti menjadi Kajene yang ada di bawah Kekuasaan Aria Kamuning. Kajene artinya “Kuning” Atau “Emas”.

Dalam rangka penyebaran agama Islam, seorang ulama besar dari Cirebon yang benama Syekh Maulana Akbar pernah singgah di Buni Haji daerah Luragung. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Kajene. Pada waktu itu penduduk Kajene mayoritaas menganut agama hindu. Syekh Maulana Akbar pun mendirikan Pesantren di Sidapurna. Berkat kegigihannya pesantren pun berkembang pesat. Kian hari santri Syekh Maulana Akbar semakin bertambah hingga pada akhirnya beliau mendirikan pemukiman muslim yang diberi nama Purwawinangun.

Kegigihan beliau dalam menyebarkan agama Islam sangat dikenal seantero negeri. Hingga akhir hayatnya beliau mendedikasikan hidupnya di pesantren. Pada suatu ketika Syekh Maulana Akbar pun tutup usia dan dimakamkan di Astana Gede. Berdasarkan cerita tersebutlah Sunan Gunung Jati datang ke Kajene ingin meneruskan perjuangan Syekh Maulana Akbar. Sebelum menuju Kajene ia pun singgah di Luragung dan bertemu Ki Gedeng Luragung sebagai kepala pemerintahan. (Iis Suwartini UAD)

Read previous post:
Warga Dusun Kauman Protes Kandang Babi

KARANGANYAR (MERAPI) - Keberadaan kandang babi di Dusun Kauman Desa Nangsri Kebakkramat dikeluhkan. Warga setempat mendesak pemiliknya memindahkan tempat mengembangbiakkan

Close