EYANG ONGGOLOCO KSATRIA HUTAN WONOSIDI (5) – Membuka Perguruan Keprajuritan Bernama Lembah Ngenuman

Setelah sekian lama mereka bertapa wahyu keraton tak kunjung datang. Pada akhirnya mereka menerima kabar bahwa Ki Ageng Pemanahan yang mendapatkan bisikan wahyu keraton. Ki Ageng Pemanahan juga merupakan putra dari Raja Brawijaya V.

DALAM pertapaannya di Kembang Lampir akhirnya ia mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga bahwa wahyu karaton berada di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul. Wahyu keraton (dalam cerita tutur sering disebut wahyu Gagak Emprit) yang bersemayam di dalam sebuah kelapa.
“Kanda Ki Ageng Pemanahan sudah dinobatkan menjadi Raja Mataram, itu artinya tugas kita mencari wahyu keraton telah usai.
Apa yang hendak kita lakukan sekarang?”

“Saya sudah kadung tresno (terlanjur cinta) dengan tempat ini, bagaimana kalau kita tinggal menetap di sini.
Rara Resmi pun menyetujui kehendak anaknya. Prajurit pun tetap setia mendampingi mereka. Bersama prajuritnya Onggoloco mengembangkan pertanian dan melestarikan hutan. Mereka dibantu oleh para jin anak buah Gadhung Melati yang seblumnya telah menyetujui perjanjian yang di buat Onggoloco. Perjanjian tersebut berisi bahwa Gadhung Melati beserta pasukannya mengijinkan siapa saja yang ingin tinggal di wilayah Hutan Wonosadi. Mereka pun diwajibkan turut serta menjaga kelestarian hutan.

Tersiarnya kabar Onggoloco beserta pasukannya akan menetap di Hutan Wonosadi maka tak sedikit masyarakat yang mengikuti jejaknya. Onggoloco dan Gadingmas pun mendukung Kademangan pimpinan Ki Kertiboyo. Mereka membuka perguruan keprajuritan yang bertempat di pusat Hutan Wonosadi yang bernama Lembah Ngenuman. Perguruan ini tidak hanya memperdalam ilmu kanuragan tetapi juga diajarkan ilmu pemerintahan. Sebagian pemuda yang telah terdidik kemudian menjadi pejabat Kademangan Ngawen. Beberapa diantarnya ada yang menjadi prajurit Kerajaan Pajang.

Kondisi masyarakat terus berkembang, mereka merasakan gemah ripah lok ji nawi (tenteram, makmur serta sangat subur tanahnya). Onggoloco kerap memanfaatkan Hutan Wonosadi untuk menciptakan ramuan mengobati orang sakit. Banyak beraneka tanaman yang kaya akan manfaat. Di hutan wonosadi terdapat beragam satwa, hasil hutan begitu melimpah. Onggoloco selalu mengajarkan mereka untuk hidup berdampingan dengan alam.

Di masa tua Onggoloco kerap mengumpulkan masyarakat setempat di Lembah Ngenuman. Di tempat itulah Onggoloco memberikan wejangan sambil menyaksikan masyarakat memainkan rinding gumbeng (alat musik dari bambu). Acara diakhiri dengan kembul bujono (makan bersama) sebagai wujud syukur atas hasil panen. Acara tersebut berlangsung setiap tahun pada hari Senin Legi atau Kamis Legi dalam hitungan bulan Jawa.
Tibalah di akhir hayat mereka, kedua kakak beradik memutuskan untuk menjemput ajal dengan membersihkan diri melakukan semedi untuk mencapai kesempurnaan hidup. Onggoloco bertapa di Lembah Ngenuman sementara adiknya Gadingmas bertapa di puncak Gunung Gambar. Sebelum kepergiannya Onggoloco memberi wasiat kepada penduduk setempat. (Iis Suwartini UAD)

Read previous post:
Emosi Ditegur, Tikam Karabat Pakai Pisau Dapur

Close