MENGUAK MISTERI PULUNG,PETUNJUK DARI LANGIT (4-HABIS) – Berbuat Tidak Baik, Wahyu Cakraningrat Bisa Oncat

Abimanyu tetap tenang bersemadi. Gajah liar itu berhenti dan mengembalikan Abimanyu ke tempat semula. Tubuh gajah musnah dan berubah menjadi cahaya, lalu masuk ke tubuh Abimanyu. Wahyu Widayat menguji hal yang sama seperti ketika menguji Samba, namun Abimanyu tidak tergoda. Ia lulus dan wahyu kekuasaan pun bersemayam padanya. Wahyu Cakraningrat tidak akan menempati tubuh dan jiwa yang ringkih, penakut dan congkak.

WAHYU Cakraningrat (Wahyu artinya pulung, Cakra adalah pusaka Prabu Kresna yang berbentuk lingkaran seperti matahari dan Ningrat artinya di bumi) dimaknai sebagai wahyu yang menjelma di dalam jiwa seseorang yang selalu memberi pencerahan akan kedamaian di muka bumi. Karena itu, seseorang yang dijelmai Wahyu Cakraningrat akan ditakhtakan sebagai raja agung.

Wahyu Cakraningrat (sering disebut Wahyu Keprabon) sulit diperoleh. Banyak sekali ujian yang harus dihadapi. Siapa saja yang ingin dijelmai Wahyu Cakraningrat harus mendapat dukungan empat punakawan (harus mampu mengendalikan empat nafsunya, yakni: aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah). Setelah berhasil mengendalikan empat nafsunya, orang itu masih harus melaksanakan tapa brata dengan menenangkan raga, mengheningkan rasa, memfokuskan cipta, dan menguasai kehendakNya. Penguasa langit dan bumi yang dilambangkan dengan pohon beringin putih. Sesudah dijelmai Wahyu Cakraningrat pun, orang itu harus menjauhkan diri dari seluruh perbuatan yang tidak baik, seperti: meremehkan orang lain (sapa sira sapa ingsun).

Meski sudah kemanjingan wahyu, namun jika melakukan perbuatan yang tidak baik, wahyu Cakraningrat bisa oncat. Seperti Abimanyu yang ditinggal Wahyu Cakraningrat karena berbohong kepada Siti Sendari istri keduanya dan berbuat jahat pada Kaki Semar dengan meludahi jambulnya. Abimanyu gugur diranjap seribu panah oleh pasukan Kurawa dan dipenggal kepalanya oleh Jayadrata (Adipati Banakeling) dengan Kyai Glinggang di tengah medan laga Kurukasetra saat Bharatayuda. Abimanyu gagal dinobatkan sebagai raja di Negeri Astina. Namun putranya yang bernama Parikesit (lahir dari istrinya yakni Dewi Utari, putri Prabu Matsyapati dari Negeri Wirata) lah yang kelak akan dinobatkan menjadi raja Astina, menggantikan Prabu Yudistira (Prabu Puntadewa) yang lengser keprabon karena ingin menjalankan lelana brata bersama keempat saudaranya (Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) di Gunung Himalaya. (Hendro Wibowo)

Read previous post:
Bunga Kitolod Musuh Katarak

 KITOLOD sering juga disebut tolod maupun kendali termasuk jenis tanaman berkhasiat obat. Penggunaan secara sederhana, baik bagian bunga maupun daun

Close