MENGUAK MISTERI PULUNG,PETUNJUK DARI LANGIT (2) – Pemimpin Adalah yang Sanggup Memegang Wahyu Makutharama

Kekuasaan Jawa bersifat religius, tidak dapat diganggu-gugat karena merupakan warana atau khalifatullah. Rakyat tidak berhak meminta pertanggungjawaban raja. Rajalah yang harus mengontrol dirinya sendiri agar kekuasaan yang telah terkonsentrasi dalam dirinya tidak merosot, agar wahyu yang telah diperolehnya tidak berpindah ke tempat lain.

SUMBER-SUMBER simbolik yang mendukung kekuasaan raja (penguasa) dituntut untuk melakukan komunikasi dengan dunia adiduniawi atau supra alami yang tidak nampak, dengan memberikan sesajian ke tempat-tempat yang dianggap sakral seperti makam para leluhur, Ratu Laut Selatan dan gunung Lawu, Merapi, Merbabu dan hutan Krendhana di utara Surakarta dan Yogyakarta. Tujuannya untuk memperbesar kekuatan spiritual raja. Benda-benda pusaka juga memegang peranan yang penting untuk menopang kekuasaan.

Kekuasaan yang besar diimbangi dengan kewajiban ”berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta” (meluap budi luhur mulia dan sifat adilnya terhadap semua yang hidup, atau adil dan penuh kasih). Hubungan rakyat (kawula) dengan pemimpinnya (gusti) dikenal dengan jumbuhing kawula-gusti (manunggalnya rakyat dan raja), yang berasal dari ajaran agama, persatuan antara manusia dan Tuhan. Manunggaling kawula (rakyat/umat) Gusti (raja/Gusti Allah).

Ketaatan rakyat kepada Tuhan diwujudkan dengan kesetiaan kepada raja. Raja punya kekuasaan yang tertinggi di seluruh negeri (wenang wisesa ing sanagari), yang dalam pewayangan disebut “gung binathara, bau dendha anyakrawati” (sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa dunia). Di kerajaan Mataram diwujudkan dengan gelar panembahan, sunan, sultan yang diikuti dengan kalimat “senapati ing ngalaga sayidin panatagama khalifatullah”. Amangkurat IV merupakan raja yang pertama kali mendapat gelar khalifatullah.

Dalam kisah pewayangan, banyak kisah tentang wahyu keprabon. Misalnya “Wahyu Makutharama” yang diberikan kepada para ksatria Pendawa Lima. Barang siapa yang sanggup memegang wahyu makutharama, dialah yang akan menjadi pemimpin.

Lakon “Wahyu Cakraningrat”, mengkisahkan tentang tiga ksatria (Lesmana Mandrakumara, Samba Wisnubrata, dan Abimanyu) yang berusaha memperoleh Wahyu Cakraningrat. Barangsiapa yang bisa mendapatkan wahyu itu, kelak akan menjadi raja. Namun untuk mendapatkan wahyu itu tidak mudah karena mereka harus laku tapa brata yang berat di Hutan Krendayana. (Hendro Wibowo)

Read previous post:
KPU Sukoharjo Sampaikan Berkas Usulan Pelantikan Bupati Terpilih ke DPRD

SUKOHARJO (MERAPI) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sukoharjo menyampaikan berkas usulan pelantikan pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati terpilih

Close