MENGUAK MISTERI PULUNG, PETUNJUK DARI LANGIT (1) – Ratu-binathara Memiliki Tiga Macam Wahyu

Pilkada adalah bentuk modern dari suatu sistem kepemimpinan, di mana pemimpin dipilih secara langsung oleh rakyatnya sendiri dengan suara terbanyak. Namun ternyata masih banyak orang yang mencampurkan sistem yang modern itu dengan tradisi kepercayaan irasional.

KEKUASAAN Jawa sudah berlangsung selama berabad-abad. Dari jaman kerajaan: Mataram Hindu, Kahuripan, Jenggala, Daha, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram. Dalam memerintah kerajaan Mataram, Sultan Agung menggunakan prinsip-prinsip khas kekuasaan Jawa. Dalam kosmologi Jawa, kekuasaan dan kepemimpinan sering diselimuti aura spiritualitas. Irasionalitas kekuasaan dikaitkan dengan sosok pemimpin yang sakral karena melibatkan campur tangan Tuhan. Masyarakat Jawa tradisional masih meyakini bahwa seseorang bisa menjadi pemimpin jika sudah mendapatkan tanda dari langit, yaitu jatuhnya pulung sebagai pertanda mendapatkan wahyu keprabon. Pulung ini dianggap sebagai restu gaib dari para leluhur dan alam semesta yang diberikan untuk memimpin suatu wilayah (kerajaan / negeri).

Siapa yang kesinungan menerima wahyu keprabon adalah satria pinilih, orang yang kuat “nyunggi drajat” yang akan menjadi pemimpin sejati. Wahyu keprabon ini bahkan lebih penting daripada keturunan. Orang yang mendapatkan wahyu ini dianggap punya kekuasaan mutlak sebagai pemimpin pilihan Tuhan (raja). Barang siapa yang menentang raja itu dianggap sama dengan melawan Tuhan. Namun wahyu keprabon ini tidak stabil. Sewaktu-waktu, wahyu itu bisa oncat (berpindah kepada orang lain).

Dalam birokrasi kraton Jawa dikenal istilah ratu. Ratu-binathara memiliki tiga macam wahyu, yaitu wahyu nubuwah, wahyu hukumah, dan wahyu wilayah. Wahyu nubuwah mendudukkan raja sebagai wakil Tuhan. Wahyu hukumah menempatkan raja sebagai sumber hukum dengan wewenang murbamisesa atau penguasa tertinggi. Wahyu wilayah, mendudukkan raja sebagai yang berkuasa untuk memberi pandam pangauban, artinya memberi penerangan dan perlindungan kepada rakyatnya.

Orang Jawa menganggap Kraton sebagai pusat kosmos. Sultan Agung membuat pedoman kepemimpinan dan etika kekuasaan yang terhimpun dalam Serat Nitipraja. Serat-serat wulang kejawen banyak yang mengungkap tentang pemikiran yang terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Kedudukan Raja dalam Konsep Kekuasaan Jawa yaitu raja sebagai pusat kekuasaan kosmis dan mistis, peranan wahyu dan ngelmu kasampurnaan, dan sumber-sumber simbolik yang mendukung kekuasaan raja seperti pusaka, tarian tradisional, upacara ritual religius dan nilai-nilai seorang pemimpin. Kekuasaan Jawa bersifat religius, tidak dapat diganggu-gugat karena merupakan warana atau khalifatullah. Rakyat tidak berhak meminta pertanggungjawaban raja. Rajalah yang harus mengontrol dirinya sendiri agar kekuasaan yang telah terkonsentrasi dalam dirinya tidak merosot, agar wahyu yang telah diperolehnya tidak berpindah ke tempat lain. (Hendro Wibowo)

Read previous post:
Cara Baru Bercocok Tanam dengan Pupuk Fermentasi Urine

KARANGANYAR (MERAPI) - Penanaman padi menggunakan pupuk cair dari fermentasi urine mulai dikenalkan lebih luas. Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan

Close