PANGERAN GAGAK SINANGLING (9-HABIS) – Menitipkan Pusaka Kiai Sejoli Diserahkan Kepada Sang Prabu

Di serambi padepokan Panembahan Sajodho bersama Pangeran Gagak Sinangling menemui ketiga tamu dari Majapahit duduk di atas gelaran tikar pandan putih. Berkali-kali orang tua berjenggot putih mengangguk-angguk seakan-akan beliau paham akan situasi dunia saat itu.

“BETUL, Pangeran. Uddara marah lalu membunuh raja karena ayahnya dipidana pati oleh raja tersebut gara-gara dicurigai akan makar. Nah, sekarang Uddara bertahta di Majapahit dengan gelar Prabu Brawijaya VII. Dengan demikian apakah Pangeran Gagak Sinangling akan kembali ke Majapahit? Sebab Uddara tidak akan meneruskan pengembaraan seperti kesepakatan semula”.

“Saya ucapkan terima kasih untuk Kakang Uddara yang telah mengantarku sampai di Padepokan ini. Saya sudah bilang kepada kakang Uddara biarlah pengembaraan selanjutnya aku selesaikan sendiri. Aku tidak akan kembali ke Majapahit semuanya sudah aku relakan dan aku anggap Majapahit memang harus bernasib seperti itu”.

“Jadi angger Pangeran Gagak Sinangling akan berguru di sini sampai beberapa lama kemudian”, sahut Panembahan Sajodho ikut menjelaskan.

“Paman Gajah Benawa, katakan kepada kakang Uddara aku tak akan pernah kembali ke Majapahit. Ini keris piandel Kiai sajoli milik Kakang Uddara aku titipkan kepadamu mohon diserahkan kepadanya”, kata Pangeran Gagak Sinangling.

“Terima kasih, Pangeran. Besuk aku serahkan kepada sang Prabu Brawijaya VII”.

Sesudah penyerahan keris pusaka itu ketiga tamu dari Majapahit itu segera pamit pulang, Semula diperkirakan keris tadi harus diperebutkan dengan pertumpahan darah ternyata Pangeran Gagak Sinangling orangnya begitu baiknya. Ini satu pertanda bahwa pangeran tersebut tidak akan mengadakan perlawanan kendatipun ayahnya sendiri telah dibunuh oleh Uddara. Barangkali Pangeran Gagak Sinangling beranggapan inilah nasib yang harus diterima ayahnya sehubungan dahulu ayahnya naik tahta Majapahit juga dengan membunuh Kertabumi.

Di kraton Majapahit Uddara akhirnya juga resah dan gelisah. Pikirannya selalu saja dihantui siapa kira-kira yang akan membalas membunuhnya suatu saat nanti? Kini kecurigaannya kepada semua orang terlalu tinggi, siang tidak tenang malampun susah tidur, makan tidak enak tidurpun tidak nyenyak.

Maka ketika Gajah Benawa pulang bersama kedua pengawalnya Prabu Brawijaya VII senanglah hatinya.

“Bagaimana, Paman? Apakah paman bisa ketemu Adi Gagak Sinangling?”, tanya sang Prabu Brawijaya VII.

“Bisa, Kanjeng Prabu. Ini Pangeran Gagak Sinangling menitipkan pusaka Kiai Sejoli agar diserahkan kepada sang Prabu”, kata Gajah Benawa.

Uddara yang bergelar Prabu Brawijaya VII itu menerima keris pusaka miliknya tadi dengan menitikkan air mata, haru. Beliau teringat, tentang kemampuan keris pusaka Kiai Sejoli itu pernah diceritakannya kepada Adimas Pangeran Gagak Sinangling. Bahwa, pusaka tersebut pada saatnya nanti bisa membunuh seorang raja. Namun Adimas mengembalikan pusaka ini kepadaku berarti dia tidak akan membunuhku. Sedangkan aku membunuh ayahnya hanya dengan pusaka pinjaman dari adi Wartajaya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Dewan Ingatkan Pemerintah Jangan Impor Daging

PATI (MERAPI) - Pemerintah harus cermat dalam mensikapi kelangkaan daging. Karena kasus tersebut hanya bagian permainan kelompok kartel yang ingin

Close