PANGERAN GAGAK SINANGLING (4) – Muncul Sesosok Mirip Panembahan Sajodho Bagaikan Kembar

Dari hari ke sehari Panembahan Sajodho bersama cantrik-cantrik membenahi lagi kehidupannya setelah dirusak sepasukan prajurit yang tidak mereka kenal siapa sebenarnya dan apa tujuan mereka?

SUATU pagi ketika para cantrik sedang mengerjakan ladang dan kebun mereka di sekitar Padhepokan dari kejauhan terdengar gembrudug suara sepasukan berkuda berlari dari kejauhan mendekati mereka.

“Bantulah aku! Kalian berdua siap siaga di belakangnku”, kata Panembahan Sajodho kepada Uddara dan Pangeran Gagak Sinangling. Sedangkan para cantrik Padhepokan disuruh mempertahankan bangunan paguron yang baru saja diperbaiki dengan senjata masing-masing.

“Hati-hati Panembahan!”, kata Pangeran Gagak Sinangling.

“Ya. Jika mereka menyerang berhadap-hadapan aku tidak takut. Tetapi dulu itu mereka menyerangku dari belakang dan tahu-tahu merobohkan Padepokanku”. jawab Panembahan Sajodho sambil menyiapkan diri dengan menghimpun konsentrasinya membangkitkan kekuatan batinnya. Sepasang telapak tangannya yang menangkup di dadanya nampak bergetar makin lama makin seru getarannya. Sehingga disekujur tubuh Panembahan itu perlahan-lahan muncul kukus putih seperti kabut tipis semakin lama kabut itu kian melebar.

Sementara itu, pasukan berkuda yang akan menyerang semakin dekat. Maka dari dalam kabut yang melingkupi tubuh Panembahan muncullah sesosok tubuh lain yang mirip sekali dengan Panembahan Sajodho bagaikan saudara kembarnya. Sesudah kabut yang menyelimuti pelan-pelan menghilang benarlah berdiri dua orang kembar yang sulit dibedakan satu dengan lainnya.

“Itulah ajian kakang kawah adi ari-ari”, bisik Uddara kepada Pangeran Gagak Sinangling.

“Hmmm, ya ya ya”, Pangeran Gagak Sinangling cuma bisa bergumam kagum.

Barangkali itulah sebabnya dinamakan Panembahan Sajodho. Kedua Panembahan itu bersiap dengan senjata mereka yang berupa cambuk dengan ujung juntainya diberi sebulat kecil besi hitam berbentuk tengkorak.

Begitu pasukan musuh datang kedua panembahan tersebut memisahkan diri mengambil jarak kira-kira empat meter diantara keduanya. Mereka mengayunkan cambuknya bersama-sama ‘gleerr, glerr, glerrr’ dua ekor kuda di paling depan seketika terjatuh dengan kepala pecah. Penunggangnya memaki-maki tak habis-habisnya, “Kurang ajar benar kau panembahan gila? He, siapa itu temanmu? Perkenalkan aku Wangsagemet dari Keling. Nah, siapa namamu agar aku tahu sebelum nyawamu lepas dari ragamu!”.

“Aku Adimas Sajodho. Cukup itu saja kamu mengenalku sebelum nyawamu akan hilang ditanganku”.

“Huh! Persetan dengan dirimu”, maki Wangsagemet yang sudah kehilangan kudanya itu sambil meloncat menyerang dengan pedang panjangnya.
Adimas Sajodho meloncat kesamping menghindari ujung pedang tadi sekalian dia menghentakkan cambuknya suaranya meledak-ledak seperti petir disiang bolong. Peperangan berjalan ramai sekali. Wangsagemet betul-betul menguasai senjatanya dengan sempurna baik ketika menyerang maupun menangkis setiap serangan lawan. (Akhiyadi)

Read previous post:
ilustrasi
Pengedar Uang Palsu Tipu Agen Bank

Close