PANGERAN GAGAK SINANGLING (3) – Diikat Rantai Besi Ditidurkan di Atas Jerami

“Kita berjalan lagi ke arah selatan kira-kira setengah hari. Setelah sampai di sebuah Ngarai kita belok ke barat menyusuri jalan yang menurun. Nanti setelah matahari cukup rendah di arah barat kita akan menjumpai sebuah Paguron”, Uddara menjelaskan.

PANGERAN Gagak Sinangling mengangguk-angguk, mereka terus berjalan ke arah selatan hutan di kanan kiri jalan setapak itu kian lama semakin lebat dengan aneka pepohonan dan perdu. Binatang-binatang juga mulai banyak berkeliaran mencari makan atau mereka mendatangi sebuah pancuran yang airnya menggenang untuk minum.

Setelah setengah hari perjalanan mereka lalu membelok ke arah barat menyusuri jalan yang menurun berbatu-batu dan sampai saatnya senja hari tibalah mereka ke tempat tujuan.

“Wouw, apa-apaan itu?”. Uddara kaget mendapati bekas paguronnya ambruk. Agaknya ambruknya sudah beberapa bulan yang lalu menilik bambu-bambu cagaknya dan rapak-rapak atapnya sudah mulai di datangi ribuan rayap.

“Siapa di situ ya?”, terdengar suara orang tua menyapa dengan tanya.

Uddara dan Pangeran Gagak Sinangling terperanjat karena suara tadi berasal dari bawah reruntuhan paguron atau pondok.

“Aku Uddara, Panembahan”.

“Uddara tolonglah aku, Nak!” pinta orang tua itu dengan suara terbata-bata.
Uddara dengan dibantu oleh Pangeran Gagak Sinangling bergegas mendekati arah suara dan segera membongkar bambu atau kayu-kayu yang menimpanya.

Orang tua itu ternyata diikat rantai besi sekujur tubuhnya dan ditidurkan di atas jerami. Uddara lalu memeras jambu air yang dibawanya, diteteskan ke mulut orang tua itu. Sesudah beberapa tetes air jambu tadi masuk kekerongkongannya Panembahan Sajodho perlahan-lahan membuka matanya.

“Terima kasih Uddara atas pertolonganmu. Sesungguhnya aku sudah dua bulan teronggok di sini tanpa bisa berbuat apa-apa karena aku selalu dijaga prajurit Majapahit, tidak dibunuhku tapi dibiarkan tertimbun agar lama-lama aku mati. Prajurit-prajurit Majapahit itu baru kemarin sore meninggalkan tempat ini”.

“Hmmm, kejam benar mereka. Siapa prajurit Majapahit itu, Panembahan?”.

“Katanya mereka prajurit Majapahit dari Keling”.

Pangeran Gagak Sinangling terheran selama dua bulan teronggok di bawah reruntuhan bangunan dalam keadaan terikat rantai besi sama sekali tidak sakit hanya sedikit pucat. Setelah makan nasi pemberian bekal dari Pangeran Sinangling Panembahan tua itu sudah menjadi sehat kembali. Ini tentu tidak mungkin jika beliau bukan orang sakti yang berilmu tinggi.

Akhirnya Padhepokan itu didirikan kembali dan Pangeran Gagak Sinangling beserta Uddara berguru kepada Panembahan Sajodho. Sebagian besar dari cantrik-cantrik yang dulu lari menjauh karena takut kepada prajurit Majapahit kini satu per satu sudah kembali lagi.

“Siapakah prajurit Majapahit dari Keling itu, kakang?”, tanya Pangeran Gagak Sinangling.
Uddara terdiam sejenak, “Aku tidak tau pasti, mungkin para keturunan prajurit Jayakatwang dari Kediri yang hidup liar di hutan-hutan”.

Pangeran Gagak Sinangling mengangguk-angguk meski sebenarnya dia tidak mengerti atau belum pernah mengerti tentang Keling dan pasukannya.
Demikianlah dari hari ke sehari Panembahan Sajodho bersama cantrik-cantrik membenahi lagi kehidupannya setelah dirusak sepasukan prajurit yang tidak mereka kenal siapa sebenarnya dan apa tujuan mereka?. (Akhiyadi)

Read previous post:
Kersen Musuh Bebuyutan Asam Urat

ANEKA jenis tanaman bermanfaat bagi kesehatan sudah selayaknya dapat dilestarikan keberadaannya. Langkah seperti ini diharapkan termasuk bagian dari rasa syukur

Close