PANGERAN GAGAK SINANGLING (2) – Mengembara Mengikuti Arah Mahatari Terbenam

“Gagak Sinangling, Rama akan tetap berada di Kraton dan tetap berusaha memperbaiki situasi Kerajaan yang porak poranda ini semoga bisa bertambah baik. Sedangkan kepergianmu akan ditemani Uddara anak Ki Patih Mpu Tahan ini”, kata Prabu Gerindrawardhana menepuk bahu patihnya yang duduk di sampingnya.<P:

PERJALANAN pengembaraan itupun dimulailah dengan meninggalkan kotaraja Majapahit. Kepada prajurit jaga regol kedua anak muda yang tampan dan sopan itu berpamitan. Tujuannya belum mengerti kemana? Yang jelas mereka berdua hanya mengikuti arah dimana matahari terbenam dan menghilang dari ufuknya.
“Adi Pangeran Gagak Sinangling, apa kamu sudah mempunyai gambaran tentang pengembaraan kita?”, tanya Uddara di tengah perjalanan. Dia memang beberapa tahun lebih tua dari pada Pangeran Majapahit itu.

“Kakang Uddara, gambaran secara khusus sih tidak. Aku hanya berkali-kali bermimpi dalam suatu perjalananku aku ketemu seorang Panembahan sakti yang bersedia memberikan ilmunya kepadaku”, jawab Pangeran Gagak Sinangling.
Uddara manthuk-manthuk, “Aku juga bermimpi ketemu perawan cantik di Sendang Beji”.
“Sendang Beji itu di mana?”
“Aku juga belum tahu? Makanya mari bersama-sama kita cari!”, ajak Uddara.

Kedua pemuda Majapahit itu begitu bersemangatnya melangkahkan kaki menyusuri jalanan yang berdebu. Semakin lama perjalanan mereka semakin menjauhi Kotaraja Majapahit dan mulai memasuki wilayah pedesaan. Matahari sudah meninggi, sinarnya tajam menyorot ke bumi menjadikan udara siang begitu panasnya. Dahaga mulai terasa, kerongkongan serasa kering, dan laparpun mulai menggelitik perut.
“Adi, rasanya perutku mulai lapar. Maaf ya, aku akan memetik jambu air di pohon itu”, kata Uddara lalu meloncat tinggi memetik sedompol jambu air yang sudah memerah, matang.

Pangeran Gagak Sinangling mengerti bahwasannya Kakang Uddara meloncat dengan dorongan kekuatan ilmu batin yang dikuasainya.
“Hebat loncatanmu, Kakang?”, Pangeran Gagak Sinangling memuji.
Uddara tersenyum, di rumah aku suka berlatih loncat-loncatan. Menurutku kelincahan seseorang dalam meloncat bisa mendukung dirinya manakala harus menghindari serangan lawan di dalam pertempuran.

Pangeran Gagak Sinangling mengangguk-angguk membenarkan pendapat teman seperjalanannya. Dalam hati dia menduga-duga kalau temannya itu memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni dan tentu sudah pernah berguru di beberapa Padhepokan.
“Kau pernah berguru ke mana saja, Kakang Uddara?”, tanya Pangeran Gagak Sinangling.
“Soal berguru sih ke banyak tempat aku pernah mencoba. Bahkan di sekitar tempat ini kalau tidak salah aku pernah berguru kepada Panembahan Sajodho”,
“Di mana perguruan itu, Kakang?”.
“Kita berjalan lagi ke arah selatan kira-kira setengah hari. Setelah sampai di sebuah Ngarai kita belok ke barat menyusuri jalan yang menurun. Nanti setelah matahari cukup rendah di arah barat kita akan menjumpai sebuah Paguron”, Uddara menjelaskan. (Akhiyadi)

Read previous post:
Okra Bantu Tingkatkan Imunitas Tubuh

ANEKA jenis sayur cukup mudah dibudidayakan  di Indonesia. Sebagian diantaranya cukup populer dan mempunyai manfaat atau khasiat kesehatan. Satu di

Close