PANGERAN GAGAK SINANGLING (1) – Tidak Tega Melihat Kewibawaan Majapahit Hancur

Ketika itu sungguh merupakan situasi yang carut marut tak menentu di Kraton Majapahit. Kedamaian, kerukunan, dan keamanan dalam kebersamaan hidup yang tentram jauh dari harapan. Permusuhan, dengki srei, berebut kekuasaan antar sentana dalem kraton, perang kecil-kecilan, bunuh membunuh antar sesama kerabat Majapahit menjadi hal yang biasa terjadi hampir setiap saat.

KEWIBAWAAN raja merosot tajam dirongrong oleh kerabat sendiri menyebabkan kepercayaan rakyat juga semakin surut terhadap pemerintahan yang lemah.
Keadaan seperti ini diperparah lagi oleh orang-orang yang punya kepentingan politik dengan Majapahit meski mereka bukan sentana dalem Kraton. Bahkan, sekedar seorang Lurah Prajurit Wiratamtamapun asal memiliki bala cukup banyak dan cukup kuat berani merebut kedudukan seorang sentana dalem sekaligus menggantikannya.

Pangeran Gagak Sinangling adalah si anak jadah putra dari Gerindrawardhana dengan seorang sentana dalem keputren. Anak muda berilmu kanuragan sangat mapan dan sakti itu tidak tega melihat Majapahit yang dulu berwibawa didukung oleh prajurit-prajurit wiratamtama yang gagah berani. Bahkan musuh akan berhitung seribu kali jika harus menghadapi Majapahit. Tetapi kini wibawa kerajaan besar itu telah hancur, terinjak-injak ketamakan, terbenam di lumpur kenistaan akibat sentana-sentana dalem yang tidak tahu diri, mau menangnya sendiri dengan meraup banyak kedudukan dan pangkat untuk dirinya dan kelompoknya.

Tetapi apalah daya dirinya adalah seorang yang tidak memiliki hak apapun juga di lingkungan keraton lantaran kelahirannya yang tidak resmi. Meski ayahnya seorang raja namun ibunya permaisuri bukan selirpun bukan.
“Rama Prabu, agaknya situasi sudah tidak mungkin lagi diselamatkan”, kata Pangeran Gagak Sinangling.
“Ya. Kamu boleh pergi untuk mencari ketenangan diri”, jawab Ramanya.

Sebagai seorang ayah Gerindrawardhana tidak habis pikir. Semula dirinya adalah raja Kerajaan Keling disebelah timur Kediri. Namun berkat kesaktiannya yang luar biasa itulah beliau dapat membunuh Kertabumi raja Majapahit pada tahun 1478. Gerindrawardhana lalu menjadi raja Majapahit hingga kini dan dari seorang wanita yang digaulinya kemudian lahirlah Pangeran Gagak Sinangling.

“Gagak Sinangling, Rama akan tetap berada di Kraton dan tetap berusaha memperbaiki situasi Kerajaan yang porak poranda ini semoga bisa bertambah baik. Sedangkan kepergianmu akan ditemani Uddara anak Ki Patih Mpu Tahan ini”, kata Prabu Gerindrawardhana menepuk bahu patihnya yang duduk di sampingnya.
“Betul, Pangeran. Anakku Uddara sudah sanggup menemanimu kemanapun engkau ingin pergi mencari kedamaian hati”, kata Ki Patih Mpu Tahan. (Akhiyadi)

Read previous post:
PHRI Tegaskan Hotel dan Restoran Tetap Buka

BANTUL (MERAPI) - Meski DIY masuk daftar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jawa-Bali pada 11-25 Januari mendatang, Persatuan

Close