MERTI DUSUN KRANDEGAN DI LERENG GUNUNG SUMBING (1)- Banyak Orang yang Berguru pada Eyang Dipodrono

Saparan Merti Dusun di Krandegan wajib harus nanggap Tayuban. Menurut cerita tutur tinular yang telah melegenda di desa ini, ratusan tahun yang lalu di dusun yang kini bernama Krandegan, ada seorang pengembara berkelana sampai di lereng selatan Gunung Sumbing.

PENGEMBARA itu menurut warga setempat bernama Dipodrono. Sampai kini warga masyarakat di sini tidak ada yang tahu, asal muasal pengembara itu. Konon, dalam perjalanan pengembaraannya, dia tiba di hutan rimba di kaki Gunung Sumbing. Karena kelelahan Dipodrono berhenti untuk beristirahat di hutan tersebut. Bagi Dipodrono tempat pemberhentian itu cocok sebagai tempat istirahat. Tempat pemberhentian, yang bahasa Jawa-nya “ndheg-ndheg-an”. Sehingga, akhirnya tempat itu menjadi pemukiman, yang oleh warganya disebut “Krandhegan”, berasal dari kata-kata ‘karana’ (sebab) ‘mandheg’ (berhenti) dan akhiran ‘an’ yang bermakna tempat.

Di Krandegan ini Dipodrono, yang oleh masyarakat dusun ini disebut ‘eyang’, mendirikan sebuah rumah kecil yang sekaligus sebagai tempat untuk beristirahat dan melakukan tapa brata (muja semedi). Karena gentur dalam bersemedi Eyang Dipodrono menjadi orang yang memiliki kelebihan dalam olah kebatinan maupun olah kanuragan. Sehingga nama Eyang Dipodrono makin lama makin termasyhur di kawasan lereng Gunung Sumbing ini, dan semakin banyak

MERAPI-AMAT SUKANDAR
Pagelaran tayuban saat merti dusun.

orang yang nyantrik atau berguru kepadanya. Pada awalnya di dusun Krandegan ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Namun semakin lama jumlah warga di dusun Krandegan ini semakin bertambah dan berkembang dengan mata pencaharian utama sebagai petani sayur-mayur dan palawija.

Kemasyhuran Eyang Dipodrono sampai di dengar oleh orang luar daerah. Sehingga, pada suatu hari ada seorang wanita yang mencari tokoh Krandegan itu. Ketika wanita itu sampai di dusun ini dan ditanya warga, dia mengaku seorang “tledhek” atau penari tayub dari daerah Yogyakarta. Dia ingin bertemu dengan Eyang Dipodrono untuk nyantrik, menimba ilmu kebatinan, olah seni dan olah kanuragan. Namun, sebelum dia dapat bertemu dengan Eyang Dipodrono di padepokannya, wanita tledhek itu meninggal dunia. Jenazahnya oleh Eyang Dipodrono dan warga Krandegan dimakamkan di dusun itu. Sampai kini warga dusun ini tidak tahu, siapa sebenarnya tledhek atau penari tayub itu. Meski makam tledhek itu berada di dusun ini. (Amat Sukandar)

Read previous post:
Kelapa Muda Bantu Atasi Mual-Muntah

PEMANFAATAN bahan alami berkhasiat dari tumbuhan sudah lama diterapkan warga. Bagian yang dimanfaatkan, misalnya daun, buah, bunga, akar, kulit batang

Close