PADEPOKAN WATU PENYU (9-HABIS) – Panembahan Trunajati Diangkat sebagai Senopati Perang

Panembahan Trunajati mengerti, di dada adiknya terdapat luka tembak. Ini berarti seorang Kompeni Belanda yang membunuhnya. Hmmmm, peperangan masih akan berlangsung lama meski kemudian diteruskan di tempat lain. Kini dirinya berjanji dalam hati harus bisa membalas kematian adiknya minimal dengan nyawa seorang opsir Kompeni Belanda.

PANEMBAHAN Trunajati mendengar kabar, pelarian Kanjeng Sunan Amangkurat Mas ke wilayah Bang wetan bergabung dengan Suropati. Suatu kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata kalau memang begitu kenyataannya. Apalagi pelarian tersebut bersama keluarganya, anak turunnya Suropati, dan para Prajuritnya yang mumpuni mengawalnya dengan setia “Adi Surya, siapa yang mengawal pelarian ke timur Kanjeng Sunan Amangkurat Mas itu?”, bertanya Panembahan Trunajati kepada salah satu sahabatnya ketika menjadi prajurit dahulu.

“Tumenggung Jodipati. Apakah Kakang berkepentingan?”
“Sekedar balas dendam pada Kompeni atas meninggalnya adikku yang ditembaknya dalam peperangan di sini kemarin. Maksudku, adikku membela Kanjeng Sunan Amangkurat Mas. Sedang kompeni membela Pasukan Kanjeng Susuhunan Pakubuwana yang berseteru dengannya”

“Ah, engkau bakal terlibat dalam peperangan yang berkepanjangan nanti. Sebab aku dengar pasukan kompeni dan pasukan Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I akan mengejar Amangkurat Mas ke timur. Mereka sangat bernafsu ingin merebut pusaka-pusaka peninggalan Mataram dulu yang dibawa lari”.
Panembahan Trunajati mengangguk-angguk. Baginya dendam itu bukanlah dendam kesumat namun sekedar pelampiasan rasa solidaritas keluarga. Malam itu juga Panembahan Trunajati menyelinap-nyelinap menuju ke Kraton Kartasura dimana para prajurit dan kompeni sedang berpesta pora dan mabuk-mabukan minuman keras, tuak, dan ciu.

Kebetulan seorang Kompeni yang lagi mabuk menghajar seorang pelayan karena permintaannya belum dipenuhi. Saat itulah Panembahan Trunajati meloncat masuk dan menghantam kening Kompeni hingga dia terjatuh, kepalanya berdarah, pecah. Para Kompeni dan orang-orang yang berpesta pun kemudian ramai-ramai mengejar Panembahan Trunajati yang meloncat keluar ruangan.

Satu per satu Kompeni yang mengejarnya dilawan, ditendang atau dipukul dengan tangan kosong. Mereka mengaduh kesakitan bahkan ada yang benjol jidatnya, pipinya, dan juga jatuh terpukul dagunya hingga tidak berdaya.

Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I terheran-heran melihat tandang grayang Panembahan Trunajati yang mampu meladeni sekian banyak musuh dengan cekatan. Beliau kemudian turun dan melangkah mendekatinya, “Hentikan pengamukmu, Ki sanak!. Kamu tahu siapa Aku?”, tanya Kanjeng Susuhunan Pakubuawana I.
“Ya. Sinuhun adalah Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I. Aku juga mengenalmu sebagai Pangeran Puger ketika aku masih menjadi Prajurit Kartasura semasa pemerintahan Kanjeng Sinuhun Amangkurat Amral”.
“Hmmmm, begitu? Jadi kamu sesungguhnya siapa?”.

“Sekarang sebutanku Panembahan Trunajati dari Padepokan Watu Penyu. Dahulu semasa masih jadi prajurit pada saat pemerintahan Kanjeng Sunan Amangkurat Amral namaku Ki lurah Jayajati”.
“Apa maksudmu membuat onar di sini?”.
“Ampun, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana. Hamba hanya bermaksud membela pelayan yang tadi dianiaya oleh seorang Kompeni. Maka Kompeni tersebut aku pukul kepalanya”, jawab Panembahan Trunajati.

Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I mengangguk-angguk. Beliau mengerti, orang ini bukan orang sembarangan. Maka tidaklah perlu memperpanjang masalah. Malam itu juga Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I merengkuh Panembahan Trunajati menjadi prajuritnya.
Bahkan dipercaya mengemban tugas sebagai Senopati perang. Dia akan diikutsertakan dalam pertempuran ke Bang wetan dalam upaya menangkap Sunan Amangkurat Mas, keluarganya, dan merebut pusaka-pusaka peninggala Mataram yang dibawanya melarikan diri. (Akhiyadi)

Read previous post:
Karang Kepanjen Jadi Kampung Tangguh Nusantara

SLEMAN (MERAPI) - Bupati Sleman Sri Purnomo pada Selasa (24/11),mengukuhkan satu lagi Kampung Tangguh Nusantara, yang dibentuk untuk meningkatkan partisipasi

Close