PADEPOKAN WATU PENYU (8) – Panembahan Tejamaruta Gugur dengan Luka Tembak di Dada

Sunan Amangkurat Mas mulai kebingungan melihat prajuritnya banyak menjadi korban dan pasukan inti andalannya kini berbalik memihak lawan. Beliau mulai dihinggapi rasa kekhawatirannya jika dirinya sampai tertangkap Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I pasti akan mendapat balasan setimpal sehubungan dirinya pernah memenjara pamannya itu bersama keluarganya.

TUMENGGUNG Jodipati bergegas menyiapkan prajurit-prajurit yang mumpuni berikut puluhan ekor kuda tunggang maupun kuda beban.
“Bawa semua pusaka asli Mataram!”, perintah Kanjeng Sunan Amangkurat kepada kedua anaknya, Tepasana dan Wiramenggala.
“Sendika, Rama Prabu” jawab mereka berdua seraya mengemasi semua pusaka peninggalan Kerajaan Mataram yang ada di gudang senjata.
Dalam perlindungan ribuan prajuritnya yang memagar betis Kanjeng Sunan Amangkurat Mas berikut seluruh keluarganya melarikan diri ke arah timur. Menurut rencana mereka akan bergabung dengan Surapati di Bang Wetan.

Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I terbengong, heran. Sungguh beliu tidak mengira jika Amangkurat Mas akan bertindak pengecut, tinggal glanggang colong playu. Pasukannya kemudian diajaknya memasuki Keraton Kartasura bersama pasukan dari Madura, Surabaya, dan Kompeni Belanda. Saat itu senja memang sudah semakin rendah, matahari nyaris tenggelam di puncak perbukitan yang membiru di kejauhan sebelah barat. Ya, hari sudah waktunya beristirahat dan membersihkan diri dari gerahnya pertempuran, cedera, dan luka-luka juga harus segera diobati.
Dukun-dukun dan Tabib-tabib yang sudah lebih dahulu membersihkan diri di Pakiwan siap menjalankan tugasnya memberikan pertolongan kepada siapa saja yang menjadi korban peperangan. Mereka segera diobati, dikendurkan otot bebayunya, lalu diborehi param, dan disuruh beristirahat atau tidur agar tenaganya cepat pulih kembali.

Kini suasana seputar tanah pertempuran itu mulai suram, matahari sudah bersembunyi di balik puncak bukit sinarnya yang kemerahan nampak membayang di langit sebelah barat.
Seorang remaja tergesa-gesa menemui Eyangnya yang masih sibuk mencari seorang korban di antara mayat-mayat yang bergelimpangan dengan beberapa luka di tubuhnya.
“Eyang, sepertinya aku menemukan orang yang Eyang cari”, kata remaja itu.
“Benar katamu, Kulup?”, tanya orang tua berpakaian kumal yang ternyata Panembahan Trunajati itu meyakinkan.
“Di sana, Eyang. Di antara mayat-mayat yang tergeletak di bawah pohon Nagasari”.

Keduanya kemudian bergegas mendekati pohon Nagasari, diamat-amatinya dengan seksama wajah salah satu mayat dari sekian ratus korban peperangan. Orang tua itu jongkok dengan kepala menunduk, dadanya sedikit terguncang, air matanya menuruni pipi, satu-satu jatuh di tanah berdebu. Hati Panembahan Trunajati sedih sekali, adiknya, Panembahan Tejamaruta menjadi korban bersama Tumenggung Jayasrati dan prajurit lainnya.
“Kulup, ayo kita kuburkan di sini Eyang Tejamaruta. Nanti diberi tetenger Batu item ini!”, ajak Panembahan Trunajati kepada cucunya.
Dalam hati Panembahan Trunajati hanya bisa mendoakan semoga arwah adiknya diterima di sisi Allah dan mendapat balasan atas amal baiknya semasa hidup di dunia. Amin.

Panembahan Trunajati mengerti, di dada adiknya terdapat luka tembak. Ini berarti seorang Kompeni Belanda yang membunuhnya. Hmmmm, peperangan masih akan berlangsung lama meski kemudian diteruskan di tempat lain. Kini dirinya berjanji dalam hati harus bisa membalas kematian adiknya minimal dengan nyawa seorang opsir Kompeni Belanda. (Akhiyadi)

Read previous post:
19 Produk UKM Masuk Minimarket

KARANGANYAR (MERAPI) - Sebanyak 19 produk UKM Karanganyar lolos kurasi dan langsung dipasarkan di minimarket. Produk-produk UKM itu di antaranya,

Close