PADEPOKAN WATU PENYU (7) – Pasukan Inti Andalan Berbalik Memihak Lawan

Kanjeng Susuhunan Pukubuwana I bersama Prajuritnya yang bergabung dengan Kompeni dari Semarang diapit kedua sayap bersama kedua senopati pengapitnya dan prajauritnys membentuk barisan memanjang ke belakang berjumlah ribuan prajurit. Sambil bertempur mereka besorak-sorai saling menyemangati agar lebih garang dalam bertempur.

LUKA mulai menganga, darah mulai mengucur membasahi tanah ibu pertiwi, korban berjatuhan. Nampak pasukan Sunan Amangkurat Mas mulai terdesak beberapa lurah prajurit sudah jatuh berguguran menjadi korban keganasan lawan.

Sesekali terdengar sorak menggemuruh dari kubu pasukan Susuhunan Pakubuwana I ketika mereka berhasil menumbangkan lawan. Kompeni Belanda juga nampak kian bersemangat dengan bedil dan meriam-meriam kecilnya yang berkali-kali menggelegar mencabut nyawa berpuluh-puluh prajurit musuh.
Tumenggung Brajatani dan Ki Lurah Reksatanu yang memimpin pasukan inti dan pasukan Pesisir Utara nampak mulai resah dan gelisah. Korban tak terhitung lagi banyaknya akibat peluru dan meriam Kompeni.

“Kakang Brajatani, pasukan kita nampak keteteran. Apa yang mesti kita perbuat?”, bertanya Ki Lurah Reksatanu.
“Ya. Setiap kali prajurit kita gagal membungkam meriam kompeni itu. Tapi apa boleh buat aku hanya prajurit bayaran, tidak terikat paugeran apapun dengan Sunan Amangkurat Mas”
“Hmmmm, lalu?”
“Lebih baik pasukanku kuajak berbalik mendukung pasukan Susuhunan Pakubuwana I dengan catatan asal beliau bersedia membayar aku dan semua temanku”.

“Huh!, kurang ajar!”, maki Ki Lurah Reksatanu sambil meloncat pergi meninggalkan rekannya itu. Dia sudah betul-betul muak melihat tampang Tumenggung Brajatani yang sangat pengecut itu. Sedangkan peperangan yang terus berkecamuk kian lama semakin seru dan makin banyak memakan korban, bedil kompeni dan meriamnya beberapa kali mencabik-cabik pertahanannya.

Tiba-tiba dari kubu Pasukan Susuhunan Pakubuwana I terdengar sorak sorai yang membahana menyambut kemenangan dan kegembiraan atas berbaliknya Pasukan Inti Sunan Amangkurat Mas dibawah pimpinan Tumenggung Brajatani bergabung dan memihak mereka.
“Terima kasih, Tumenggung Brajatani atas bergabungnya pasukanmu”, kata Adipati Cakraningrat.
“Lebih baik begini daripada membela lawan yang sudah nyaris menyerah kalah”.

Adipati Cakraningrat tertawa senang, “Lalu siapa lagi yang akan berbalik gabung dengan kami pasukan Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I yang gagah berani ini?”.
“Entahlah siapa? Yang jelas masih ada”.
Peperangan masih terus berlangsung, diantara mereka saling menyerang, menangkis, maupun menghindar. Berbagai macam senjata beradu berdentang suaranya sesekali diselingi dengan jerit kesakitan korban baik yang terluka maupun yang gugur.

Di lain pihak, Sunan Amangkurat Mas mulai kebingungan melihat prajuritnya banyak yang menjadi korban dan malah pasukan inti andalannya kini berbalik memihak lawan. Pelan-pelan Beliau mulai dihinggapi rasa kekhawatirannya jika dirinya sampai tertangkap Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I pasti akan mendapat balasan setimpal sehubungan dirinya pernah memenjara pamannya itu bersama keluarganya.
“Tumenggung Jodipati, siagakan prajurit pengawal pilihan! Menurut perhitungan aku harus cepat-cepat melarikan diri dari pertempuran ini!”, perintahnya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Ada 357 Kasus Pernikahan Dini di Masa Pandemi

KARANGANYAR (MERAPI) - Pandemi Covid-19 menyumbang kasus pernikahan dini di Kabupaten Karanganyar. Ratusan muda mudi mengajukan pernikahan meski belum cukup

Close