PADEPOKAN WATU PENYU (6) – Genderang Perang Ditabuh Bertalu-talu

“Tidak, Kakang. Aku akan tetap membela Kanjeng Sunan Amangkurat Mas. Mungkin peperangan hanya tinggal dua tiga kali lagi. Sebab rencananya Kanjeng Sunan Amangkurat Mas akan menghimpun kekuatan dari Bang wetan termasuk bergabung dengan Suropati.”

MENDENGAR jawaban dari adiknya tadi Panembahan Trunajati bergegas meninggalkan tempat itu. Orang tua tersebut juga mengamati pertempuran yang masih berlangsung. Akhirnya Tumenggung Jayasrati meninggal bersama puluhan bahkan ratusan prajuritnya setelah dia menderita luka yang cukup parah.
“Hmmmm”, Penembahan Trunajati bergumam sendiri. Dia memperkirakan besuk atau lusa masih akan terjadi perang besar-besaran baik di sekitar wilayah Kartasura maupun meluas sampai ke daerah lain. Karena Amangkurat Mas yang masih keturunan Demak itu banyak mendapat dukungan orang-orang pesisir utara Jawa. Hal ini biasanya akan membawa pengaruh yang mudah merembet ke mana-mana.

“Ini bisa menjadi perang trah antara keturunan Demak dengan keturunan Pajang. Bukankah Pangeran Puger (Pakubuwana I) itu keturunan Pajang?”, bisik batin Panembahan Trunajati sambil meneruskan langkahnya.


Hari bertukaran hari, bulan bergantian bulan, tahun pun merangkak ke depan. Kini matahari pagi di awal tahun 1705 agak suram tersaput mendung tipis yang terbang berarak-arak bersama mega-mega dari utara. Di pagi yang suram berawan ini ternyata tidak menyurutkan semangat orang-orang pesisir utara yang tergabung dalam pasukan Amangkurat Mas. Di antara mereka juga terdapat prajurit-prajurit bayaran baik dari Bugis, Banda, Melayu, dan Ambon
dipimpin Tumenggung Brajatani. Selain itu orang-orang Pesisir Utara di bawah pimpinan Ki Lurah Reksatanu menambah jumlah mereka mencapai puluhan ribu prajurit.

Bendera, klebet, umbul-umbul, maupun rontek yang mereka bawa begitu megahnya menandakan sebuah pasukan yang besar. Genderang perang ditabuh bertalu-talu menyemangati gerak langkah mereka yang gagah berani. Para pemimpin pasukan naik kuda membawa tombak panjang dan perisai. Sedangkan di bagian paling depan adalah prajurit-prajurit bersenjatakan panah, lembing, bandhil, dan senjata lontar lainnya.

Gemuruh langkah dan sorak sorai mereka terdengar membahana bersamaan dengan debu-debu putih yang terhambur sepanjang jalan yang dilewati. Tatkala suara bende terdengar mengumandang kesegala penjuru para prajuritpun segera melepaskan senjata lontar mereka untuk menggertak lawannya.
Sedangkan di pihak lain Pasukan Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I yang terdiri dari, adipati Cakraningrat, adipati Jangrana berikut prajuritnya masing-masing, bergabung dengan kompeni Belanda siaga menyambut serangan tersebut. Para Prajurit yang berperisai maju ke depan melindungi serangan anak panah dan lembing yang dilontarkan musuh dari arah depan.

Kompeni membalas serangan jarak jauh itu dengan senapan-senapan mereka yang menyalak-nyalak memuntahkan butiran-butiran peluru. Korbanpun mulai berjatuhan di kedua belah pihak. Seiring mulai surutnya hujan anak panah Adipati Cakraningrat segera memberi aba-aba para prajurit Madura untuk segera menyerang. Dia yang memimpin sayap kanan pasukan Pakubuwana I segera terlibat peperangan menghadapi Tumenggung Reksobayan. Sedangkan
Adipati Jangrana yang memimpin di sayap kiri meladeni Tumenggung Jodipati. Pertempuran di kedua sayap gelar perang berbentuk Garuda Nglayang ini sangat seimbang kedua belah pihak saling mendesak atau di desak.

Kanjeng Susuhunan Pukubuwana I bersama Prajuritnya yang bergabung dengan Kompeni dari Semarang di apit kedua sayap bersama kedua senopati pengapitnya dan prajauritnys membentuk barisan yang memanjang ke belakang berjumlah ribuan prajurit. Sambil bertempur mereka besorak-sorai saling menyemangati agar lebih garang lagi dalam bertempur. (Akhiyadi)

Read previous post:
ilustrasi
Ngaku Orang Pintar, Curi Perhiasan Lansia

Close