PADEPOKAN WATU PENYU (5) – Peperangan Masih akan Berlangsung Lama

Anak panah yang sudah diisi mantra-mantra melesat dengan cepatnya “jreb!” menancap tepat di leher naga raksasa. Wuwujudan hewan mengerikan itupun nglempuruk, lemas, mati, dan hilang. Begitupun halnya dengan Naga satunya tak urung juga terkena panah tadi, hilang lenyap seketika.

SEDANGKAN Panembahan Tejamaruta yang melontarkan semacam ilmu sihir untuk membuat wewujudan tadi kini terjongkok diam mendekap dadanya yang terasa sakit. Ternyata ilmu andalannya ada yang mengetahui pangapesannya. Berkali-kali dia menarik nafas panjang untuk membangkitkan kembali kekuatan batinnya yang tadi terhantam keras oleh kekuatan ilmu dari luar.
“Kamu tergesa-gesa melontarkan ilmu pamungkasmu! Akibatnya lawan mengetahuinya”, berkata Tumenggung Jayasrati
“Ya, maafkan aku”.

Tumenggung Jayasrati tidak menjawab dia bergegas meloncat dan berlari mendekati Tumenggung Jangrana agar orang itu tidak mengamuk menjadi-jadi menimbulkan banyak korban.
Tumenggung Jayasrati segera menyerang Tumenggung Jangrana dengan tombak pendeknya. Sedangkan Adipati Surabaya itu menghadapi lawannya dengan pedang yang besar dan panjang. Kecepatan gerak mereka dalam menyerang dan menghindar sangat menentukan, Tumenggung Jangrana begitu lincahnya bagai seekor burung Sriti menyambar mangsanya di udara begitu cekatan serangannya dan selalu mengenai sasarannya. Tidak membutuhkan waktu lama baju Tumenggung Jayasrati bagian depan sudah basah oleh darah karena dadanya yang tergores pedang menyilang.

Melihat temannya terluka Panembahan Tejamaruta segera membantunya. Dia bersenjatakan keris pusaka yang bentuknya agak lebih besar dari keris sewajarnya. Kini pertempuran menjadi seimbang setelah Tumenggung Jangrana harus menghadapi dua orang lawan meski yang seorang sudah kehilangan sebagian kemampuannya. Adipati dari Surabaya itu terpaksa meloncat mundur jauh-jauh menghindari serangan dua orang lawannya bersama-sama.
Kemudian dengan serta merta dia melepaskan serangan dengan kekuatan penuh terutama melibas Tumenggung Jayasrati yang sudah agak lemah tapi masih berbahaya. Tiba-tiba terdengar jeritan keras sekali dari Tumenggung Jayasrati lantaran pundak kanannya tertebas pedang lawan.
Dia jatuh terduduk tak berdaya dan segera dilindungi oleh anak buahnya dibawa ke belakang garis pertempuran.

Sementara itu, di bagian lain medan pertempuran, Kompeni dan para Pajurit Kanjeng Susuhunan Pakubuwana berhasil memporak-porandakan Pasukan Kadipaten Demak. Sebagian dari orang-orang pesisir utara itu melarikan diri bergabung dengan orang-orang daerah lain di Pantai utara Jawa yang turut dalam pertempuran itu.
“Adi Maruta”, bisik seseorang yang tiba-tiba sudah jongkok di dekatnya.
Panembahan Tejamaruta kaget, “Lho? Kakang Trunajati?”, katanya tak habis mengerti kenapa kakaknya menyusulnya?
“Sebaiknya Adi ikut aku. Agar Adi tidak terluka seperti ini akibat pertempuran”.
“Maksud, Kakang?”, bertanya Panembahan Tejamaruta sambil memandangi lengannya yang lukanya menganga tergores ujung pedang lawan.
“Kita sebaiknya mundur dari palagan saja. Sebab peperangan ini akan berlangsung lama, bertahun-tahun. Mungkin sampai umur kita habis perang belum selesai dan kita tak akan pernah mendapat apa-apa kecuali hanya terluka”.

“Tidak, Kakang. Aku akan terus mengejar harapan-harapanku sampai terwujud. Kalau kita hanya mengundurkan diri dari riuhnya palagan lalu apa gunanya kita bertahun-tahun berupaya mengembangkan ilmu kanuragan kita di Lembah Nyawalunga?”
“Ilmu kanuragan tidak harus dibawa ke medan pertempuran, bisa juga disimpan sebagai kekayaan diri pribadi”.
“Tidak, Kakang. Aku akan tetap membela Kanjeng Sunan Amangkurat Mas. Mungkin peperangan hanya tinggal dua tiga kali lagi. Sebab rencananya Kanjeng Sunan Amangkurat Mas akan menghimpun kekuatan dari Bang wetan termasuk bergabung dengan Suropati”.(Akhiyadi)

Read previous post:
Sleman Terbaik Implementasi “Epayment” Pengadaan Barang/Jasa

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman berhasil meraih predikat Pemeritah Daerah Terbaik dalam implementasi "epayment" pengadaan barang dan jasa dari

Close