PADEPOKAN WATU PENYU (4) – Asap Berubah Jadi Dua Ekor Naga Menakutkan

Tahun 1704 pada suatu pagi yang cerah Panembahan Tejamaruta diajak Tumenggung Jayasrati bertemu dengan Tumenggung Ponowareng. “Panembahan Tejamaruta, perkenalkan ini Tumenggung Ponowareng. Dia seorang Adipati dari Demak yang memimpin orang-orang Pesisir Utara Jawa”, kata Tumenggung Jayasrati.

PANEMBAHAN Tejamaruta mengangguk hormat dan tersenyum, “Ya, aku Panembahan Tejamaruta dari Padepokan Watupenyu”.
“Betul, akulah Tumenggung Ponowareng. Kali ini aku datang kemari memenuhi permintaan Kanjeng Sunan Amangkurat Mas agar seluruh Pasukan Kadipaten Demak menghadapi pasukan Kanjeng Sunan Pakubuwana I yang bergabung dengan Adipati Cakraningrat dari Madura, Adipati Jangrana dari Surabaya berikut pasukan Kompeni yang datang dari Semarang.”

“Sebaiknya prajurit Panembahan Tejamaruta bergabung saja dengan kekuatan prajurit Demak”, saran Tumenggung Jayasrati menyela.
Panembahan Tejamaruta setuju untuk bergabung dengan prajurit-prajurit pesisir utara.
Dia merasa harus berendah hati kepada mereka. Sebab orang-orang pesisir utara itu punya kemampuan yang lebih dari pasukannya yang kecil itu. Mereka terbiasa berperang menghadapi musuh baik musuh lokal maupun musuh dari mancanegara. Selang sehari setelah pertemuan para pemimpin prajurit Kanjeng Sunan Amangkurat Mas itu pertempuranpun berkobarlah.

Gabungan pasukan Pakubuwana I, Adipati Cakraningrat, Adipati Jangrana berikut pasukan kompeni merangseg maju dengan langkah yang begitu nampak gagah. Berkali-kali suara tembakan terdengar disusul gelegar meriam yang banyak menelan korban jiwa.
Sedikit banyak hal ini telah merontokkan nyali pasukan Kadipaten Demak. Namun Tumenggung Ponowareng, Tumenggung Jayasrati, dan Panembahan Tejamaruta terus berteriak-teriak menggelorakan semangat juang prajuritnya. Bahkan Panembahan Tejamaruta sempat membuat permainan yang mengagumkan. Ketika segunduk batu sebesar kerbau mendekam dilempar dengan akik jimatnya maka dari batu tersebut muncul kukus atau asap lalu dari dalamnya dua ekor naga muncul menakutkan, makin lama makin membesar tubuhnya, mulutnya menganga dengan lidah bercabang terjulu-julur, suaranya berdesis-desis menyemburkan bisa.

Sepasang Naga raksasa itu kemudian bergerak mendekati pasukan lawan yang berada beberapa ratus meter di hadapannya.
Semula gabungan pasukan Pakubuwana I dan teman-temannya berhamburan ketakutan melihat sepasang Naga raksasa tersebut, mengerikan.
“Jangan takut! Itu hanya bayangan, tidak ada artinya apa-apa!”, teriak Adipati Jangrana.

Seorang prajurit yang membawa tombak panjang segera maju dan menusuk Naga raksasa sehingga ia menggeliat dan ekornya menyabet seorang prajurit lainnya. Yang disabet jatuh terjerembab di tanah. Tumenggung Jangrana terbeliak kaget, ternyata wewujudan Naga tadi tidak seperti yang pernah dilihatnya dalam pertempuran terdahulu. Diapun segera mengambil gendewa dan anak panah. Sebelum dilepaskan ujung anak panahnya ditusukkan pada segunduk tlethong sapi yang tercecer di tempat itu sambil mengucap mantra-mantra, “Wuuuussss…” anak panah tadi melesat dengan cepatnya “jreb!” menancap tepat di leher naga raksasa. Wuwujudan hewan mengerikan itupun nglempuruk, lemas, mati, dan hilang. Begitupun halnya dengan Naga
satunya tak urung juga terkena panah tadi, hilang lenyap seketika. (Akhiyadi)

Read previous post:
Verifikasi Penerima Hibah Pariwisata, Banyak WP Hotel dan Restoran Tak Miliki TDUP

Close