PADEPOKAN WATU PENYU (3) – Kakak-beradik Mencari Jalan Sendiri-sendiri

Panembahan Trunajati bertanya pada Panembahan Tejamaruta atas peryataannya bahwa ketidakberhasilan mereka melebur kedua ilmu mereka akan berpengaruh juga pada kemauan dan harapan-harapan mereka di masa mendatang. “Maksud Adi Maruta bagaimana?”

PANEMBAHAN Tejamaruta tidak segera menjawab, dia merenung dan berpikir sejurus lama.
“Jika kita berhasil melebur kedua ilmu kita tentu kita akan memiliki kekuatan yang tiada taranya lantaran kedua ilmu kita lebur menjadi satu dan mencapai kesempurnaannya. Aku membayangkan jika itu terjadi maka setidak-tidaknya seluruh bekas prajurit Kartasura di jaman Pemerintahan Sunan Amangkurat Amral dulu bisa kita himpun kembali. Ditambah dengan cantrik- cantrik yang ada sekarang tentu merupakan kekuatan yang besar. Maka rencana untuk menjatuhkan Sunan Amangkurat Mas yang kini memulai kekuasaannya bukanlah mimpi di siang bolong namun merupakan sebuah kenyataan yang bisa diusahakan. Tetapi karena ini semua gagal maka aku sekarang lebih cenderung mempercayai kata-kata Tumenggung Jayasrati yang pernah disuruh Kanjeng Sunan Amangkurat Mas mengajakku menjadi penasihat Raja bidang keamanan dan keprajuritan”, Panembahan Tejamaruta berteus terang.

Panembahan Trunajati hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab. Dia sudah tahu arah pemikiran adiknya.
“Kakang Trunajati, perkenankanlah aku sekarang juga meninggalkan lembah Nyawalunga ini bersama para pengikutku yang berjumlah 200 orang itu”, kata Panembahan Tejamaruta.
“Jika seperti rencanamu, apakah ada hubungannya dengan kata-katamu beberapa hari yang lalu? yakni kamu kepingin sowan Tumenggung Ponowareng? Kenapa mesti membawa seluruh pengikutmu? Bukankah itu merepotkanmu?”

“Tidak apa-apa. Sebab aku sowan ke sana bersama-sama dengan Tumenggung Jayasrati dia juga membawa pengawal prajurit Kartasura”.
Panembahan Trunajati terdiam, kepalanya tertunduk. Dengan berat hati akhirnya dilepaskanlah kepergian adiknya. Orang tua itu merasakan, adiknya telah benar-benar terpengaruh oleh rencana Tumenggung Jayasrati.

Sementara itu, di lingkungan Kraton Kartasura suasana sudah semakin kacau. Sedangkan Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I bersama para pengikutnya termasuk Adipati Cakraningrat, Adipati Jangrana, dan juga Kompeni dari Semarang telah bersiaga bersama puluhan ribu prajuritnya siap menggempur pertahanan Amangkurat Mas. Sesungguhnya Amangkurat Mas ini masih keponakannya Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I. Sedangkan Gusti Raden Ayu Lembah istri Amangkurat Mas itu adalah anak dari Kanjeng Susuhunan Pakubuwana I. Namun ikatan kekeluargaan yang masih kental itu sudah tidak mampu lagi mengendalikan hasrat mereka untuk saling berkuasa dan bertahta menjadi raja.

Tahun 1704 pada suatu pagi yang cerah Panembahan Tejamaruta diajak oleh Tumenggung Jayasrati bertemu dengan Tumenggung Ponowareng.
“Panembahan Tejamaruta, perkenalkan ini Tumenggung Ponowareng. Dia seorang Adipati dari Demak yang memimpin orang-orang Pesisir Utara Jawa”, kata Tumenggung Jayasrati. (Akhiyadi)

Read previous post:
Kacang Panjang Menjaga Kesehatan Mata dan Cegah Asam Urat

KACANG panjang merupakan tanaman tahunan yang berasal dari Asia Selatan, namun kini banyak dibudidayakan di Asia Tenggara, Cina Selatan, dan

Close