PADEPOKAN WATU PENYU (2) – Ada Kabar Kraton Kini Sedang Gonjang-ganjing

Panembahan Trunajati menjelaskan setelah bertahun-tahun mereka mencoba untuk meleburkan kedua jalur ilmu menjadi sebuah ilmu kanuragan jenis baru yang diharapkan memiliki kedahsyatan yang tiada taranya. Sehingga bisa menandingi Sunan Amangkurat Mas, raja yang banyak dibenci para kawula karena sikap dan wataknya yang kurang terpuji.

PANEMBAHAN Trunajati diam sejenak, dipandanginya adiknya yang duduk di depannya. Lalu katanya, “Dengan cantrik-cantrik kita yang berjumlah 500 orang lebih itu banyak yang mesti kita kerjakan. Sebagian besar dari lembah Nyawalunga ini sekarang telah menjadi lahan persawahan yang subur. Tentu hal ini kelak bisa kita usulkan kepada Kanjeng Sunan di Kartasura sebagai sebuah Kademangan yang cukup besar. Atau jika memungkinkan kita usulkan sebagai tanah Perdikan dan kita berdua di sini diberi kekuasaan atas tanah garapan kita ini”, Panembahan Trunajati menjelaskan.

“Itu membutuhkan kesabaran yang tinggi, Kakang. Sebab beberapa hari yang lalu ketika aku mencoba menengok kota raja Kartasura mendengar kabar bahwa Keraton kini sedang gonjang ganjing. Para sentana dalem banyak yang berbeda pendapat soal tabiat sang Nata. Tentu Kanjeng Sunan akan lebih memikirkan hal tersebut dari pada mempertimbangkan usulan kita”, kata Panembahan Tejamaruta.
“Gonjang ganjing semacam apakah itu, Adi Maruta?”.

“Pangeran Purbaya yang sudah dinobatkan sebagai raja oleh Kompeni bergelar Susuhunan Pakubuwana I di Semarang nampaknya ingin merebut Kartasura dibantu oleh Kompeni, Adipati Cakraningrat dari Madura, dan Tumenggung Jangrana Adipati dari Surabaya, serta para prajurit dari Semarang”.
“Uuuukh…”, Panembahan Trunajati menarik nafas dalam-dalam. Kini situasi dirasakannya memang serba ruwet penuh oleh ketamakan diri dan nafsu pribadi. Kanjeng Sunan yang berkuasa sekarang ini sesungguhnya memang tidak pantas, kurang tinulada bagi rakyat Kartasura. Bahkan Pangeran Puger pamannya pernah berkata, sifat-sifat jelek itu terbawa dari ibunya yang bukan keturunan Mataram. Setelah pernyataan ini Pangeran Puger dipenjara. Tetapi beliau dapat meloloskan diri dan berlari ke Semarang meminta bantuan Kompeni yang kemudian mengangkatnya naik tahta dengan Gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Ing Alaga Ngabdulrakhman Sayidin Panatagama Ingkang Kaping Setunggal.

Panembahan Trunajati termangu-mangu, beliau terdiam beberapa jenak. Dipandanginya wajah adiknya, “Mugkin inilah perbedaanku dengan Adi Maruta”, bisik batinnya. Sejak penobatan Kanjeng Sunan Amangkurat Mas Adi Maruta memang salah satu pendukungnya yang setia meski dia tahu segala macam cacat sinuhun Prabu itu. Entah siapa yang membisikinya jika kelak Sunan Amangkurat Mas mapan kekuasaannya dia bakal diberi kedudukan tertentu di
dalam Keraton Kartasura.

“Adi Maruta, jika menurut pendapatmu sebaiknya bagaimana?”, bertanya Panembahan Trunajati.
Panembahan Tejamaruta mengangkat kepalanya yang tertunduk, “Kakang Trunajati, kiranya ketidakberhasilan kita melebur kedua ilmu kita berpengaruh juga pada kemauan dan harapan-harapan kita di masa mendatang”.
“Maksud Adi Maruta bagaimana?”. (Akhiyadi)

Read previous post:
139 Ternak Sudah Diungsikan

CANGKRINGAN (MERAPI) - Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman hingga kemarin telah mengungsikan total sebanyak 139 ternak warga

Close