CANDI CETO DI LERENG GUNUNG LAWU (1) – Pengunjung Perempuan Tidak Boleh Memakai Rok

MERAPI-KEMDIKBUD.GO.ID
Situs Candi Ceto tampak depan setelah pemugaran pada tahun 1978.

Candi Ceto atau Cetha, merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir zaman Majapahit di abad ke-15 Masehi. Lokasi candi ini berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

KOMPLEKS candi Ceto digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa alias Kejawen.
Sampai saat ini Candi Ceto masih digunakan sebagai tempat beribadah dan dikunjungi umat Hindu, terutama pada hari Selasa dan Jumat seitap tanggal 1 Sura. Setiap 6 bulan sekali di candi ini diselenggarakan peringatan Wuku Medangsia. Selain umat Hindu, banyak juga wisatawan yang mengunjungi candi ini. Ada satu pantangan bagi pengunjung wanita, yaitu tidak boleh mengenakan rok. Dianjurkan bagi wanita yang berkunjung untuk memakai celana panjang. Mungkin pantangan tersebut berkaitan dengan keyakinan bahwa Candi Ceto adalah candi lanang atau laki-laki, yaitu candi yang banyak menggambarkan bagian sensitif tubuh pria.

Candi Ceto dibangun sekitar tahun 1451-1470 pada akhir masa Kerajaan Majapahit, ketika pengaruh Hindu di Jawa mulai pudar dan unsur Indonesia asli dari tradisi prasejarah mulai hidup kembali. Ciri khas seni arca pada masa itu, misalnya dibuat berukuran besar tapi pahatannya lebih sederhana. Hal ini bisa dilihat dari arca Bima yang ada di halaman pertama.

Dari sisi arsitektur gaya bangunan masa itu menyerupai punden berundak yang berkembang di Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna, Jawa Timur. Nama Ceto yang dalam bahasa Jawa berarti jelas, digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada. Pasalnya, dari Dusun Ceto orang dapat melihat dengan jelas ke berbagai arah.

Situs Candi Ceto mempunyai kaitan erat dengan Situs Candi Sukuh yang dibangun tahun 1439 M. Kedua candi ini memang letaknya berdekatan. Pembangunan kedua candi diperkirakan juga berhubungan dengan ritual upacara ruwatan. Bernet Kempers dalam Ancient Indonesian Art berpendapat, Situs Candi Ceto sejak awal didirikan merupakan situs suci yang berhubungan dengan penghormatan arwah-arwah leluhur yang pada paruh pertama abad XV diubah menjadi monumen yang mengandung unsur-unsur kebudayaan Hindu-Jawa dengan karakter lokal dan sarana pembebasan arwah leluhur dari semua ikatan duniawi.
Laporan ilmiah pertama mengenai Candi Ceto dibuat Van de Vlies tahun 1842. A.J. Bernet Kempers juga pernah melakukan penelitian. Ekskavasi atau penggalian untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam dilakukan pertama kali tahun 1928 oleh Dinas Purbakala (Commissie vor Oudheiddienst) Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh.

Saat ditemukan, keadaan candi Ceto bentuknya reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur. Namun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras atau punden berundak memunculkan dugaan akan sinkretisme kultur asli Nusantara dengan Hinduisme. Dugaan ini diperkuat oleh aspek ikonografi. Bentuk tubuh manusia pada relief-relief menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tapi tubuh cenderung tampak depan. Penggambaran serupa, yang menunjukkan ciri periode sejarah Hindu-Buddha akhir, ditemukan di Candi Sukuh. – Dari berbagai sumber. (*)

Read previous post:
LPM Harus Tingkatkan Semangat Gotong Royong

MLATI (MERAPI) - Lembaga Pemberdayaan Masyarakat adalah mitra kerja pemerintah, keberadaannya diharapkan mampu bersinergi dan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten

Close