NGENTA-ENTA MBALELA (10-HABIS) – Ki Gede Pacukilan dan Anak Menantunya Dihukum Mati

Ki Mas Dana yang sudah tersiksa sedemikian rupa itu hanya bisa pasrah. Sementara pendukungnya yang dulu jumlahnya mencapai ribuan kini sudah banyak yang menjadi korban dan tinggal beberapa ratus saja.

TIDAKLAH mungkin mengharapkan bantuan dari mereka karena mereka juga tak mungkin bakal mampu melawan prajurit Kartasura.
“He, kenapa kamu bengong melulu?”, bentak seorang lurah yang bertugas menjaga para tawanan perang.
“Ki Lurah, besuk jika anakku itu dibunuh aku mohon Ki Lurah juga membunuhku sekalian. Aku tidak tega dengan anak menantuku yang sudah nyaris mati dirajah jutaan jarum oleh rakyat Kartasura”.
“He, siapa kamu? Apa kamu ayahnya ki Mas Dana si pemberontak yang diikat di pohon beringin tengah Alun-alun itu?”, tanya ki Lurh Prajurit.
“Ya. Aku ayah menantunya”.

“Soal kamu dibunuh atau tidak itu tergantung keputusan Kanjeng Sultan. Jika dosamu dinilai cukup besar tentu Kanjeng Sultan akan memerintahkan prajurit jagal untuk membunuhmu”.
“Aku mohon Ki Lurah mengusulkan kepada Sinuhun Prabu agar aku dihukum mati!”.
“Sinuhun itu punya pertimbangan tersendiri, tidak semua kesalahan dihukum mati dan juga tidak semua kesalahan dimaafkan. Semua ada pertimbangannya tersendiri dan yang tahu seperti apa pertimbangan itu hanya Kanjeng Sultan”.

Ki Gede Pacukilan manthuk-manthuk. Baginya mati itu lebih baik dari pada siksaan meski hal ini sudah sejak awal disadarinya sebagai akibat dari seorang pemberontak namun setelah melihat beratnya risiko hatinya mengkeret juga akhirnya.
Pagi harinya Ki Mas Dana dilepaskan ikatannya dari Pohon beringin, dia sudah lemas tak disentuhkan ambruk, nafasnya nampak sudah cekak. Kanjeng Sultan kemudian memerintahkan agar segera dibunuh maka prajurit jagal segera maju memenggal lehernya. Ki Gede Pacukilan
yang merengek-rengek minta dihukum pati pun akhirnya dikabulkan, dia dibunuh bersama anak menantunya.

Hari itu juga sebregada prajurit dari Kartasura datang ke Ngenta-enta atas perintah Kanjeng Sultan. Mereka menjarah harta benda baik milik Ngenta-enta maupun milik Kademangan Karangkulon yang ikut mbalela. Selain harta benda berharga juga istri-istri dan
perawan-perawan dari Ngenta-enta diboyong ke Kartasura disowankan kepada Kanjeng Sultan.
Ki Demang Karangkulon diampuni dosa-dosanya, dia tetap diberi kekuasaan memimpin Kademangan Karang yaitu terdiri karangkulon dan Karangwetan dijadikan satu sebagai daerah taklukan Kartasura.

Dalam tugas sehari-hariannya dia dibantu oleh Ngabei Sumarata yang kemudian memperistri adik Ki Demang. Sedangkan Kiai Talijiwa yang sudah tua itu menyatakan ingin juga tinggal di Kademangan Karang. Di sisa hidupnya beliau ingin mendarmabaktikan diri
terutama di bidang kesehatan sebagai seorang dukun bagi kepentingan Kademangan Karang.dan Kartasura. (Akhiyadi)

Read previous post:
Cabe Jawa Bantu Singkirkan Demam

  CARA meraih sehat ada beragam pilihan. Satu diantaranya dengan memanfaatkan ciptaan Yang Maha Kuasa seperti wujud tanaman dan satwa

Close