NGENTA-ENTA MBALELA (6) – Pasukan Berperisai di Barisan Depan Menghadapi Musuh

“Baiklah, Ki Gede. Akan aku persiapkan orang-orangku”, kata Ki Demang lalu bergegas meninggalkan pemimpinnya itu. Ki Gede Pacukilan, Jaka Caluring, Ki Demang Karangkulon, Panembahan Tirtayuda dan para prajuritnya segera mempersiapkan diri dengan senjatanya masing-masing.

TIKUNGAN lorong dekat muara Sungai Manyar pas di sebelah timur Kademangan Karangkulon jalannya agak menurun berbatu-batu cukup luas dengan tumbuhan pandan di sana sini yang menghijau subur.
“Agaknya mereka masih jauh”, gumam Jaka Caluring.
“Ya. Belum ada satupun prajurit sandi yang datang memberitahu kepada kita sampai dimana perjalanan Prajurit Kartasura”, jawab Ki Demang.
Sementara itu, Pasukan dari Kartasura sudah mulai berangkat. Mereka dipimpin oleh Ki Lurah Sumarata, Ngabei Sindurejo, Ki Lurah Jaya Danu, dan seorang dukun sakti yang mengobati luka Pangeran Prenggalaya, Kiai Talijiwa.
“Ki Lurah, waspadalah! Agaknya di depan ada bahaya!”, kata Kiai Talijiwa nggraita.
“Terima kasih, Kiai. Akan aku persiapkan prajurit-prajurit kita”.

Tidak seberapa jauh lagi di depan nampaklah musuh yang memang sengaja menghadang perjalanan mereka. Satu per satu dengan senjata terhunus mereka berdiri berkacak pinggang, ada yang di tengah jalan dan ada pula yang ditepi kanan kiri jalan.
Ki Lurah Sumarata sengaja menempatkan mereka yang berperisai dan bersenjatakan panah agar berjalan di depan. Untuk melindungi semua pasukan sekaligus membalas serangan dengan senjata jarak jauh tersebut.

“Cleeng..” terdengar sebuah perisai baja menangkis sebatang anak panah bermata besi yang meluncur deras dari arah depan. Serangan tersebut segera dibalas oleh Kiai Talijiwa yang ternyata orang tua itu sangat trampil menggunakan senjata lontar itu. Sementara mereka-mereka yang bersenjatakan perisai sibuk melindungi kawan-kawan mereka yang melepaskan anak-anak panah.

Awal dari pertempuran itupun sudah memakan beberapa korban. Ki Gede Pacukilan yang berpengalaman dalam berbagai peperangan segera memacu pasukannya untuk berlari menyongsong lawannya sambil melindungi diri dengan perisai. Hal ini dilakukan kecuali untuk mengurangi jumlah korban yang jatuh juga untuk menggertak lawan agar cepat kendur keberaniannya lantaran harus melawan orang-orang yang sedemikian gagah perkasa.

“Nah, Jaka Caluring. Hadapi Ki Lurah Sumarata! Aku sendiri akan melawan dukun tua yang nampaknya memiliki kelebihan dari pada nanti dia banyak memakan korban para prajurit”, berkata Ki Gede Pacukilan.
“Baiklah Rama”, jawab Jaka Caluring yang kemudian memerintahkan Ki Demang Karangkulon mendekati Ngabei Sindurejo agar orang itu tidak leluasa mengamuk meminta banyak korban. (Akhiyadi)

Read previous post:
Terbangkan Layangan di Area Bandara Bakal Ditindak Tegas

Close