NGENTA-ENTA MBALELA (4) – Korban Berjatuhan, Calon Demang Menyerah

Berkali-kali Ki Mas Mandura berusaha menyerang dengan tombaknya dengan sasaran perut lawannya. Tetapi Ki Lurah Sumarata begitu rapatnya melindungi dirinya dengan perisai bajanya. Kemudian tombak pendeknya terayun cepat menyerang leher musuhnya yang buru-buru menundukkan kepalanya.

MENGERTI akan arah serangan lawan ke dadanya maka Ki Lurah Sumarata segera menutupi dadanya dengan perisai. Pada saat yang bersamaan senjatanya terayun mendatar dengan kecepatan tinggi menggores dada lawannya.
Ki Mas Mandura mengaduh tertatahan, ditekapnya dadanya yang mengucurkan darah segar. Wajahnya nampak memucat, tidak memancarkan keberanian dalam dirinya. Agaknya dia sudah putus asa dengan keadaannya tersebut. Maka ketika Ki Lurah Sumarata menjejaknya
dengan kaki Ki Mas Mandura terjatuh dari punggung kudanya, tak berdaya.

Kuda-kuda Prajurit Kartasura itupun semakin menjadi-jadi tandangnya menyepak musuh ke kanan ke kiri, menginjak-injak musuh yang terjatuh, dan juga menerjang ke sana ke mari.
Sehingga korban banyak berjatuhan baik yang terkena senjata maupun yang terinjak-injak kuda.
“Tuan, kami menyerah Tuan!”, berkata seseorang dengan menjatuhkan tombak dan perisainya.
“Siapa kamu?”, bertanya Ki Lurah Sumarata.
“Dipo Wilis. Aku seorang calon Demang di daerah Ponowaren”.
“Siapa yang menjadikan kamu seorang Demang?”.
“Ki Mas Dana dan Ki Mas Mandura jika pemberontakannya berhasil”
“Sekarang di mana Ki Mas Dana berada? Tunjukkan!”, bentak Ki Lurah Sumarata.

“Aku tidak tahu, Tuan”.
“Jika tidak tahu, hari ini juga kamu kubunuh”.
“Jangan, Tuan. Ya ya ya aku tunjukkan di mana dia berada”.
Dipo Wilis lalu mengantarkan Ki Lurah Sumarata dan kawan-kawannya menuju ke sebuah goa di tebing sungai Manyar.
Ternyata Ki Mas Dana di sana sedang dirawat oleh dua orang Dukun. Kedua dukun itu gemetar ketika Ki Lurah Sumarata masuk ke situ, “Tidak, tidak usah takut! Aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah. Bahkan orang yang yang sudah jelas bersalah seperti Ki
Mas Dana inipun tidak akan aku bunuh”, kata Ki lurah Sumarata.

“Oh. Betul, Ki Sanak?”.
“Betul. Ki Mas Dana tidak akan aku bunuh. Kamu mulai hari ini hanya diwajibkan sowan kepada Kanjeng Sultan di Kartasura, nanti aku antarkan”.
Ki Mas Dana mengangguk-angguk. Dia merasa lega dalam hati, paling tidak dirinya tidak
akan mati hari itu. Entah apa hari selanjutnya yang akan dialaminya.
Siang itu juga dengan ditandu oleh para prajuritnya Ki Mas Dana dibawa ke Kartasura disowankan kepada Kanjeng Sultan. Sedangkan Pangeran Pringgalaya dinaikkan pedati dikawal para prajurit berjalan dalam rombongan tersendiri di belakang prajurit Kartasura yang mengawal Ki Mas Dana yang duduk di tandu dengan tangan dan kaki terikat. (Akhiyadi)

Read previous post:
UKDW Terima Hibah Inovasi Pembelajaran & Teknologi Bantu

YOGYA (MERAPI) - Pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara di Indonesia, termasuk juga bagi warga yang berkebutuhan khusus. Hal

Close