NGENTA-ENTA MBALELA (3) – Pangeran Pringgalaya Selamat dari Maut

Ki Mas Dana dan kawan-kawannya bersiap untuk menyerang musuh yang baru saja terkena jebakan. Sementara Pangeran Prenggalaya hanya berharap mudah-mudahan prajurit sandinya meski terluka berhasil menemui lurah prajurit yang masih berada di Ngenta-enta agar
bisa segera memberi bantuan.

“HA..HA..HAAA, ternyata kamu di sini, Pangeran Prenggalaya?”, kata Ki Mas Dana tertawa-tawa nyengir.
“Ya. Aku di sini siap melawanmu”.
Ki Mas Dana mengerti bahwa sesungguhnya Pangeran Pringgalaya sudah tidak berdaya karena tulang pundak kanannya pasti remuk kejatuhan potongan kayu tadi.

“Terimalah tajamnya tombakku, Pangeran Pringgalaya!”, ki Mas Dana pelan-pelan melangkah mendekat sambil mengayun-ayunkan tombak pendeknya.
“Wadauuuhh”, tiba-tiba dia mengaduh dan menjerit keras sekali. Sepotong kayu sebesar lengan orang dewasa yang tadi tersangkut di ranting trembesi tatkala digoyangkan hembusan angin kencang terjatuh menimpa kepalanya.
Pemimpin pemberontak Ngenta-enta itu lalu jatuh tak sadarkan diri dan segera dibawa menyingkir oleh anak buahnya, “Huh, celaka. Senjata makan Tuan!”, gerutu prajuritnya.

Sebuah keberuntungan bagi Pangeran Pringgalaya, berkali-kali dia bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan dirinya.
Sementara itu, lamat-lamat dari kejauhan terdengar derap kaki berpuluh-puluh kuda menuju ke tempat itu.
“Alhamdulillah”, bisik batin Pangeran Pringgalaya. Rombongan prajurit berkuda dari Kartasura itu ternyata dipimpin oleh Ki Lurah Sumarata. Lurah prajurit yang masih muda dan tampan itu segera menemui Pangeran Pringgalaya.
“Mohon maaf, Pangeran. Apakah luka di pundak Pangeran itu memungkinkan Pangeran untuk berperang?”, tanyanya. Dia telah mendapat kabar dari prajurit sandi bahwa Pangeran Pringgalaya terluka cukup parah.

“Tidak bisa kuingkari kenyataan ini, Adi Sumarata. Tulang di pundak kananku ini remuk tertimpa kayu besar”, jawab Pangeran Pringgalaya.
“Maaf, Pangeran. Jika dipercaya, pasukan kecil ini akan segera kubawa ke medan tempur!”
“Silakan, Adi! Aku percayakan keadaan di sini sepenuhnya kepadamu!”

Ki Lurah Sumarata segera menggerakkan pasukannya mencari tempat persembunyian Ki Mas Dana. Terjadilah pertempuran sengit di tepi sungai itu pasukan Kartasura ternyata nampak lebih trampil dan gesit berperang di atas punggung kuda.
Ki Mas Dana ternyata disembunyikan di dalam sebuah goa di tebing sungai. Sedangkan yang meladeni Ki Lurah Sumarata Ki Mas Mandura adik dari Ki Mas Dana. Berkali-kali Ki Mas Mandura berusaha menyerang dengan tombaknya dengan sasaran perut lawannya. Tetapi Ki
Lurah Sumarata begitu rapatnya melindungi dirinya dengan perisai bajanya. Kemudian tombak pendeknya terayun cepat menyerang leher musuhnya yang buru-buru menundukkan kepalanya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Ratusan Santri Jalani Swab Tes

TEMANGGUNG (MERAPI) - Ratusan santri Ponpes Darul Atsar Desa Salamsari, Kedu, Temanggung menjalani tes usap (swab test) untuk memastikan terbebas

Close