NGENTA-ENTA MBALELA (2) – Masuk Perangkap di Bawah Pohon Trembesi

Prajurit Kadipaten Mataram di bawah pimpinan Ki Jaya Winata banyak yang jadi korban, terdesak, dan akhirnya Ki Jaya Winata lari ke Kartasura melaporkan kepada Kanjeng Sultan.

KANJENG Sultan lalu memerintahkan kepada Pangeran Pringgalaya agar segera berangkat ke Ngenta-enta memerangi Ki Mas Dana dan Panembahan Pacukilan. Tanpa menunggu komando untuk kedua kalinya Pangeran Pringgalaya segera berangkat bersama prajurit andalannya ke Ngenta-enta dengan senjata terhunus.
Perang kembali terjadi, kali ini prajurit-prajurit Kartasura yang gagah berani itu nampak unggul ing jurit. Senjata-senjata mereka banyak yang berhasil melukai lawan hingga tidak berdaya.

Melihat anak buahnya banyak yang menjadi korban Ki Mas Dana melarikan diri ke arah Borobudur. Sedangkan Ki Gede Pacukilan melarikan diri berlainan arah dengan anak menantunya tadi. Dia akan ke Wanajali menemui saudara seperguruannya, Panembahan Tirtayuda untuk meminta bantuan kekuatan.
Pangeran Arya Pringgalaya mengejar ke arah Borobudur bersama para prajuritnya mereka memacu kuda-kuda mereka kencang sekali. Aneh, sesampai di pinggir sungai Manyar yang berpasir lembut Ki Mas Dana dan balanya justru meloncat menjatuhkan diri di hamparan pasir tadi. Entah mengapa, mereka kemudian sebagian memanjat pepohonan tepi sungai dan sebagian malah bersembunyi di perengan sungai dengan pedang terhunus. Mereka jongkok di dekat batu besar yang diikat dengan tali dhadhung. Entah apa yang akan mereka perbuat.
“Berhentiiiii…!”, teriak Pangeran Arya Pringgalaya memberi aba-aba anak buahnya dengan mengacungkan pedangnya ke atas.

Pasukan berkuda dari Kartasura yang berjumlah puluhan prajurit berhenti di bawah sebuah pohon Trembesi yang rindang di tepi sungai tersebut nyaris tanpa kecurigaan apapun jika mereka telah masuk ke sebuah jebakan yang amat berbahaya.
Tanpa dinyana terdengar bunyi sebuah panah sendaren. Pajurit Kartasura tergagap namun mereka tak sempat berbuat apa-apa ketika suara kemrosak datang tiba-tiba. Beratus-ratus potongan kayu sebesar kaki orang dewasa meluncur berjatuhan deras sekali menimpa para prajurit. Kiranya potongan-potongan kayu tadi telah dipersiapkan sebelumnya dan sengaja untuk mencelakai prajurit Kartasura. Dua buah tali dhadhung dibentangkan diantara cabang-cabang pohon Trembesi lalu potongan-potongan kayu disilangkan bertumpuk-tumpuk berjajar-jajar memanjang. Ujung tali dhadhung itu diikatkan ke sebuah dahan Trembesi. Sedangkan ujung yang lain diikatkan pada sebuah batu besar di tepi sungai. Maka ketika ujung tali dhadhung itu dibabat dengan pedang maka berjatuhanlah potongan-potongan kayu tersebut.

Sedangkan prajurit pengikutnya banyak mengaduh kesakitan bahkan mati ketiban potongan-potongan kayu.
“Akal bulus, ra satriya!”, Pangeran Prenggalaya memaki-maki sambil menyeringai menahan nyeri di pundaknya yang juga ketiban potongan kayu meski dia sudah berusaha menghindar dengan menarik kendali kudanya agar meloncat maju.
Ki Mas Dana dan kawan-kawannya bersiap untuk menyerang musuh yang baru saja terkena jebakan. Sementara Pangeran Prenggalaya hanya berharap mudah-mudahan prajurit sandinya meski terluka berhasil menemui lurah prajurit yang masih berada di Ngenta-enta agar
bisa segera memberi bantuan. (Akhiyadi)

Read previous post:
Berbahan Kedelai Hindarkan Risiko Kanker

  ANEKA bahan alami berkhasiat obat bisa berasal dari tumbuhan dan satwa. Ketika dibuat menjadi suatu olahan lalu rutin dikonsumsi

Close