NGENTA-ENTA MBALELA (1) – Sakit Hati Tanah Perdikan Dihapus Statusnya

Kanjeng Sultan di Kartasura ingin mengatur kembali kedudukan atau jabatan para perangkat kerajaan. Secara garis besar dikembalikan seperti pada zaman Mataram dulu.

PANGERAN Natakusuma yang menjabat Bupati Kartasura ketika itu meninggal lalu digantikan putranya bernama Pangeran Arya Pringgalaya. Setiap perubahan tata pemerintahan yang menyangkut jabatan seseorang tentu menimbulkan Pro dan kontra serta berbagai ketidakpuasan muncul di sana sini. Ada yang merasa tidak mendapatkan keadilan, ada yang merasa jabatan barunya justru merugikan dirinya, dan malah ada yang sama sekali tidak mendapatkan apa-apa malah hanya kehilangan jabatan lamanya karena diberikan kepada orang lain.

Secara kebetulan pada tahun itu juga di wilayah Ngenta-enta Ki Mas Dana dan ayah mertuanya Ki Gede Pacukilan juga merasa sangat dirugikan. Ki Mas Dana dicopot dari kedudukannya sebagai Demang dan wilayahnya dijadikan satu dengan Kademangan Karangwetan yang dipimpin oleh Ki Demang Suradirja yang loyalitas kepada Kanjeng Sultan sangat terjaga.
Inilah yang menyebabkan mereka berdua menghimpun orang-orang yang kecewa dan sakit hati di berbagai tingkat kepangkatan di lingkungan kerajaan dari Bekel anom sampai Tumenggung.

Sedangkan Ki Gede Pacukilan sendiri merasa sudah beberapa lama sakit hati mengingat tanah perdikan yang dikukuhi oleh dinasti Pacukilan sejak jaman Majapahit dulu dihapus statusnya. Sampai kini usulannya untuk mengembalikan status tanah perdikan tersebut tak
pernah digubris oleh Kanjeng Sultan.
Sudah banyak pengikut Ki Gede Pacukilan dan Ki Mas Dana. Selain orang-orangya sendiri ditambah pula mereka-mereka yang terdiri dari cantrik-cantrik berbagai padepokan di daerah sekitarnya. Praktis pengikut Ki Mas Dana adalah orang-orang yang matang dalam

berolah ilmu kanuragan meski mereka masih minim pengalaman dalam berperang campuh dengan musuh berjumlah besar. Sebab dalam perang campuh ada yang kadang-kadang bertindak nekad tanpa mengindahkan tata laku bertempur yang wajar, lumrah, dan dalam batas-batas tatanan yang manusiawi.
Kanjeng Sultan memerintahkan Bupati Mataram Ki Jaya Winata untuk memerangi Ngenta-ngenta yang mbalela tersebut. Maka terjadilah perang campuh ramai sekali. Prajurit Ngenta-enta cukup kuat menghadapi lawan. Sehingga prajurit Kadipaten Mataram di bawah pimpinan Ki Jaya Winata banyak yang jadi korban, terdesak, dan akhirnya Ki Jaya Winata lari ke Kartasura melaporkan kepada Kanjeng Sultan. Bahwa prajuritnya asor ing yuda serta meminta bala bantuan.

“Maafkan hamba, kanjeng Sultan”, kata bupati Jaya Winata dengan gemetar.
“Kenapa Jaya Winata? Kamu kalah perangnya?”
“Betul, kanjeng Sultan. Pasukan Ngeta-enta ternyata kuat sekali, ampun Kanjeng Sultan”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Penerimaan PBB Sendangadi Meningkat

MLATI (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman memprediksi penerimaan pajak dari masyarakat terutama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) mengalami penurunan akibat

Close