Saparan di Makam Sentono Sunan Geseng Dikembalikan ke Tradisi Awal

MERAPI-TEGUH
Suasana pelaksanaan Saparan di Makam Sentono Sunan Geseng dengan berkat yang khas Ketupat dan rengginang.

TRADISI budaya Saparan di makam Sentono, Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul dilaksanakan Senin Legi (12/10) dengan sederhana dan penuh hikmat. Tanpa ada keramaian dan berbagai hiburan sebagai mana beberapa tahun silam. Selain masih dalam kondisi prihatin karena wabah covid 19 belum berakhir. Dari pihak penyelenggara yaitu Juru kunci Makam Sentono Sunan Geseng, Mas Bekel Surakso Wijolo dan Trah keluarga Mbah Lurah Prapto Raharjo, ingin mengembalikan tradisi Saparan itu sebagai mana mestinya.

“Tradisi Saparan ini biasa dimeriahkan dengan berbagai kesenian serta karnaval bregada dari lapangan dusun menuju makam, tapi mulai tahun ini akan dikembalikan sebagai mana awalnya dengan menggelar doa di makam Sentono Sunan Geseng,” tutur Sunanta SE (53) salah seorang anak dari Mbah Lurah Prapto Raharjo kepada Koran Merapi di sela acara Tradisi budaya Saparan di makam yang terletak di lereng bukit Basiran itu.

Dijelaskan Sunanta, selama ini pelaksanaan tradisi budaya Saparan Jolosutro menjadi salah satu even tahunan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, karena daya tariknya pesta ketupat dan rengginan. Namun sejak dua tahun lalu terlebih setelah adanya pandemi Covid 19 tahun ini, segala bentuk keramaian serta hiburan ditiadakan. Namun begitu pihaknya mengaku tetap melaksanakan tradisi budaya Saparan itu, meski dengan kegiatan yang sederhana.

“Kami dari keluarga Trah Mbah Lurah Prapto Raharjo dan Juru Kunci serta dibantu masyarakat enam pedukuhan yaitu Jolosutro, Jasem, Pandeyan, Prayan, Kaligatuk dan Ngelosari tetap melaksanakan tradisi yang sudah berlangsung turun temrun ini. Walau dengan cara yang sederhana, meski begitu tetap membuat ketupat, renggenan dan tape ketan” ucap Sunanta.

Tradisi budaya Saparan di makam Sentono Sunan Geseng, selain untuk memetri budaya bernuansa religi juga untuk mengenang jasa-jasa Mbah Cokrojoyo atau yang lebih populer disebut Sunan Geseng dalam menyebarkan si’ar agama Islam di wilayah itu. Menurut legendanya, Cokrojoyo adalah salah seorang abdi dalem yang menjadi santri Sunan Kalijaga. Untuk menguji kesetiaan Cokrojoyo kanjeng Sunan Kalijogo memerintahkan pemuda asal Purworejo itu menunggu tongkatnya selama Kanjeng Sunan kalijogo berdakwa keliling pulau Jawa.

“Karena lama ditinggal keliling pulau Jawa, tempat yang semula untuk duduk Cokrojoyo berubah menjadi hutan perdu yang lebat. Untuk mencarinya Sunan Kalijogo membakar semak belukar itu. Cokrojoyo ditemukannya masih duduk sambil memegang tongkat dengan tubuh hitam legam karena terbakar, namun masih hidup. Dari situlah kemudian disebut Sunan Geseng,” tutur Juru Kunci Makam Sentono Sunan Geseng Mas Bekel Suraksa Wijolo yang memiliki nama asli Pardiyono.

Lebih lanjut menurut Mas Bekel Suraksa Wijolo, Sunan Geseng meninggal dan sesuai wasiat yang disampaikan kepada para santrinya untuk dimakamkan di lereng bukit Basiran yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Gunung Mbeser. Untuk pelaksanaan tradisi Saparan itu sendiri menurut dia, biasa dilaksanakan pada setiap hari Senen Legi pada setiap bulan kedua hitungan almanak Jawa yaitu bulan Sapar. Bila dalam bulan itu tidak ada pasaran Legi, bisa dilaksanakan pada pasaran lainnya asalkan tidak pada pasaran Pon.
“Itu sudah wewaler konon bertepatan dengan haul eyang Sunan Geseng, sehingga hari Senen Pon menjadi larangan untuk melaksanakan segala hajad di kampung sini,” pungkas Juru Kunci Makam Sentono Sunan Geseng. (C-3)

Read previous post:
Bupati Sleman Resmikan Krematorium TPU Madurejo

PRAMBANAN (MERAPI) - Bupati Sleman Sri Purnomo meresmikan Krematorium Tempat Pemakaman Umum (TPU) Madurejo Prambanan, Selasa (13/10). Krematorium hasil kerja

Close