NYI AGENG SERANG SRIKANDI YANG DITAKUTI BELANDA (6-HABIS) – Makamnya Jadi Wisata Spiritual Sekaligus Wisata Alam

Penaburan bunga yang indah dan wangi juga menjadi simbol penghormatan orang yang datang akan dirinya karena Nyi Ageng Serang menjadi salah satu kusuma (bunga) bangsa yang indah dan mewangi namanya.

KECUALI hal-hal itu, di atas batu nisan tersebut juga diletakkan sekotak kecil bahan untuk mengunyah sirih yang terdiri atas daun sirih, enjet (kapur oles untuk mengunyah sirih), gambir, dan tembakau. Hal ini sebagai simbol penghormatan kepada Nyi Ageng Serang yang semasa hidupnya juga mempunyai kegemaran mengunyah sirih.

Akan tetapi sirih dengan berbagai bahan komponennya juga menjadi lambang bersatunya seluruh komponen rakyat dalam melakukan perlawanan kepada Kumpeni Belanda. Komponen tersebut berisi dan berasa bermacam-macam, namun ketika digigit dan dikunyah dalam mulut rasanya menyatu dan memberi kekuatan serta perlindungan pada gigi. Itulah hakikatnya bangsa yang bersatu yang oleh karenanya dapat menjadi kekuatan dan daya lindung (kedaulatan) bagi tanah airnya.

Sumber setempat menyatakan bahwa Makam Nyi Ageng Serang menjadi salah satu makam yang cukup populer di Kulon Progo. Cukup banyak pengunjung yang mengunjungi makam ini dengan maksud ingin mengetahui lebih banyak kisah keteladanan (jiwa patriotik) Nyi Ageng Serang, wisata spiritual sekaligus wisata alam. Bukan hanya warga seputaran Yogyakarta saja yang mengunjungi makam ini, namun bahkan sudah meliputi hampir seantero Indonesia.
Selain nisan Nyi Ageng Serang sendiri di kompleks makam ini juga terdapat nisan-nisan lain dari keluarga dan pengikut Nyi Ageng Serang. Nisan-nisan tersebut di antaranya nisan dari cucunya (meninggal ketika masih kanak-kanak), nisan RM Boedi Oetomo, Ibu Raden Nganten Boedi Oetomo (cucu), Raden Rara Widilestari Wilaningsih (cucu/abdi dalem/pengikutnya).

Sementara itu bangunan pada sisi barat merupakan kompleks Panembahan Notoprojo (ayah Nyi Ageng Serang) dan keluarganya. Pada bangunan sisi barat ini terdapat batu nisan berjumlah delapan buah, yaitu nisan Nyi Ageng Notoprtojo (ibu Nyi Ageng Serang), Pangeran Notroprojo/Pangeran Luhung Selawe (ayah Nyi Ageng Serang), Gusti Bendara Raden Ayu Mangkudiningrat (putri dari Nyi Ageng Serang), Pangeran Koesoemowidjojo (suami Nyi Ageng Serang), Raden Ajeng Mirah Ayu (istri kedua Pangeran Koesoemowidjojo), Raden Hardjokoesoemo (cucu dari RA Mirah Ayu), Raden Ngabehi Hardjokoesoemo (cucu Pangeran Koesoemowidjojo). Nisan yang berjumlah delapan tersebut merupakan nisan hasil pindahan dari Desa Serang, Kecamatan Nglorog,Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Nisan-nisan tersebut dipindahkan ke Kulon Progo karena sewaktu berada di Serang nisan-niasn tersebut terancam terbenam oleh adanya proyek Kedung Ombo.

Oleh Pemerintah Republik Indonesia Nyi Ageng Serang ditetapkan sebagai pahlawan nasional yang dibuktikan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden pada tanggal 13 Desember 1974, yakni Keppres RI No. 084/TK/Tahun 1974. Nama besar Nyi Ageng Serang juga diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang RI. (Albes Sartono)

Read previous post:
Ditempa Oleh Keadaan

YONO dan Yeyen memang anak kandung Purbo. Namun mereka adalah anak tiri bagi Darti. Hal ini membuat perlakukan Darti pada

Close