Kidung Rumeksa Ing Wengi, Tolak Bala Pageblug Covid-19

MERAPI – WULAN YANUARWATI
Sri Sultan HB X.

GUBERNUR DIY yang juga Raja Ngayogyakarta Hadinigrat, Sri Sultan HB X, mengatakan selain dengan mengupayakan pengobatan medis dalam menghadapi pandemi Covid-19, juga dapat melalui jalan perenungan atau doa melalui ‘Kidung Rumeksa ing wengi’.
“Selain dengan pengobatan medis, perjuangan itu bisa lewat jalan perenungan kebudayaan sebagai akar hening misalnya dengan ‘Kidung Rumeksa Ing Wengi,” ungkapnya, Senin (22/09).

Kidung atau nyanyian tersebut merupakan doa tolak bala yang dilafalkan usai doa malam dengan bersimpuh dan berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biasa dilafalkan orang Jawa pada jaman dahulu sebanyak 11 kali di halaman rumah atau pelataran pada tengah malam. Agar manjur, juga diikuti dengan laku puasa mutih selama 40 hari dan ngebleng semalam.
“Doa tolak balam anggitan Sunan Kalijaga yang dilafalkan bakda shalat malam dalam suasana hening dan hati bening sebagai kidung pengusir
pageblug. Seraya bersimpuh, berpasrah-diri dalam keheningan atas keberadaanNya, Suwung Hamengku Ana, agar kita terbebas dari pageblug,” jelasnya.

Menurut Sultan, ditengah kesibukan dunia dan kondisi pandemi Covid-19, diperlukan sikap hening agar menajamkan kepekaan batin sehingga dapat menghadapi segala permasalahan dunia.
“Di tengah kesibukan yang membisingkan ini, hening sejenak akan menajamkan kepekaan mata batin kita,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM, Djarot Heru Santosa memaknai laku tersebut sebagai doa yang dilafalkan sesuai ajaran masing-masing dan sebagai bahan intropeksi diri.
“Kidung rumekso wengi itu prinsipnya bahwa kidung itu sebuah nyanyian, tembang jowo yang isinya seperti untuk menenangkan diri, bikin rengeng-rengeng wayah malem (saat malam). Itu juga bahan kayak intropeksi kalau kita (mencontohkan umat muslim) tahajud terus dzikir. Kita kembali ke tenang to mba, artinya kita bisa mengendalikan dan menenangkan perasaan,” jelasnya saat dihubungi Merapi, Selasa (22/9).

Intopeksi diri dapat diartikan agar waspada dan juga patuh terhadap peraturan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, yakni dengan selalu memakai masker, menjaga jarak, dan mengindari kerumunan.
“Lebih jauh dimaknai ‘rakyatku do mawas diri do ati-ati, (rakyatku hendaknya mawas diri dan berhati-hati) dihadapi kondisinya nyata ada,” imbuhnya.

Djarot juga menjelaskan seiring perkembangan jaman, kidung dapat dimaknai sebagai doa yang disesuaikan dengan keyakinan masing-masing umat.
“Disetarakan dengan doa. Untuk menenangkan diri. Dan kita kan pasrah Gusti Allah biar dijauhkan (dari mara bahaya),” lanjutnya.
“Sekarang kan ya yang beragama Islam, Katolik, Hindu, Budha dan sebagainya hidup berdoa sendiri sesuai keyakinan kita,” imbuhnya. (C-4)

KIDUNG RUMEKSO ING WENGI

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

(Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun tidak mau mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap).

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

(Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak).

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

(Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa).

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

(Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakub pendengaranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi rupaku. Ali sebagai kulitku. Abu Bakar darahku dan Umar dagingku. Sedangkan Usman sebagai tulangku).

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

(Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti Aminah sebagai kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada di dalam ususku. Nabi Nuh di dalam jantungku. Nabi Yunus di dalam otakku. Mataku ialah Nabi Muhammad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan).

Read previous post:
Banyak Mahasiswa Tak Pakai Masker, Satpol PP Siapkan Denda

Close