NYI AGENG SERANG SRIKANDI YANG DITAKUTI BELANDA (1) – Silsilahnya Masih Keturunan Sunan Kalijaga

Salah satu tokoh besar yang ikut berperan memerangi Kumpeni Belanda adalah Nyi Ageng Serang. Tokoh ini di akhir hayatnya dimakamkan di Dusun Beku, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo.

LOKASI makam Nyi Ageng Serang berada dalam rangkaian jalur Kalibawang-Muntilan. Kepahlawanan Nyi Ageng Serang kemudian juga menginspirasi bagi pendirian patungnya di Wates dalam wujud wanita cantik berpakaian prajurit sedang naik kuda dengan membawa tombak. Jarak kompleks makam Nyi Ageng Serang dengan kota Yogyakarta sekitar 30-an kilometer. Lokasi makam berada di tengah dusun, pada salah satu gundukan bukit yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Menoreh. Pada saat ini jalan untuk menuju ke lokasi makam Nyi Ageng Serang sudah terbilang bagus dan halus.

Keseluruhan kompleks makam Nyi Ageng Serang di Dusun Beku ini terbagi dalam dua bagian yang keduanya dipisahkan oleh pagar tembok. Masing-masing bagian makam terdiri atas bangunan berbentuk joglo yang menaungi nisan yang berada di dalamnya. Joglo-joglo tersebut
dilengkapi juga dengan pagar tembok keliling. Luas kompleks makam Nyi Ageng Serang kurang lebih 40 m x 40 m.

Secara kesilsilahan, Nyi Ageng Serang sebenarnya masih keturunan Sunan Kalijaga. Ada pun garis besar silsilah Nyi Ageng Serang dapat digambarkan sebagai berikut. Keturunan ke delapan Sunan Kalijaga bernama Panembahan Notoprojo (yang sesungguhnya memiliki nama
gelar Kanjeng Pangeran Adipati), tetapi ia kemudian lebih senang menggunakan nama Panembahan karena terkesan lebih merakyat. Tokoh Panembahan Notoprojo berkedudukan di Desa Serang, Nglorog, Sragen, Jawa Tengah. Pada masa lalu wilayah Serang yang merupakan
kadipaten membawahi wilayah-wilayah mulai dari Grobogan hingga Semarang bagian selatan.

Dicderitakan bahwa Panembahan Notoprojo mempunyai istri dari trah atau keturunan Sunan Amangkurat III. Dari perkawinan ini Panembahan Notoprojo dikaruniai dua orang anak, yakni Notoprojo Anom dan Raden Ajeng Kustiyah. Raden Ajeng ustiyah dilahirkan pada tahun 1752.
Menurut sumber di Beku, kedua anak Panembahan Notoptojo ini sangat tekun berlatih ilmu bela diri, olah keprajuritan, kebatinan, dan juga agama. Oleh karena hal itu Raden Ajeng Kustiyah kemudian mendapatkan tambahan nama, sebutan, atau nama kesayangan, yaitu Retno
Edi. Nama ini dapat dimaknai sebagai intan /mutiara yang indah atau intan/mutiara yang mulia.
Oleh karena itu pula ia kemudian dikenal pula dengan nama lengkap Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Ketika menginjak remaja Raden Ajeng Kustiyah ini pernah akan diperjodohkan dengan Gusti Raden Mas Sundoro, putra Sultan Hamengku Buwana I. (Albes Sartono)

Read previous post:
Belimbing Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

RUTIN mengkonsumsi asupan bergizi dan mempunyai cita rasa enak sudah banyak diterapkan masyarakat. Ketika dikonsumsi secara teratur, asal tak berlebihan

Close