SURAN WARGA ‘PAHOMAN SEJATI’ DI KAKI MERAPI (3-HABIS) – Tugu ’Watu Kurung’ untuk Memperingati Murkanya Gunung Merapi

Sesaji Samparan diletakkan di batas dusun, sudut-sudut jalan dusun, tugu Watu Kurung, dan di Watu Gajah yang terletak di tepi sungai Pabelan. Harapannya, agar dusun tersebut terhindar dari bencana banjir lahar dingin Gunung Merapi. Kirab Suran diakhiri di halaman padepokan dengan berebut isi gunungan-gunungan yang berupa jenang Sura, aneka macam sayuran dan hasil bumi oleh warga Kejawen ‘Pahoman Sejati’.

UNTUK menyemarakkan suasana Pahargyan Suran ini, diselenggarakan pagelaran seni dengan mementaskan berbagai macam tarian seperti, Tari Soreng Anak-anak, Tari Cublak-cublak Suweng, Tari Rampak Buta, Tari Gangsir Ngenthir, Tari Candhik Ayu, Tari Nuri, Tari Grasak, dan Tari Reyog. Dalam Suran kali ini digelar Karawitan Remaja Dhusun Wonogiri, Tari Puja-puji, Tari Ngoser dan ketoprak dengan cerita ‘Trunajaya Gugur’.

Dusun Wonogiri Kidul terletak di lereng sisi utara sungai Pabelan, kira-kira 9 kilometer dari puncak gunung Merapi. Ketika gunung Merapi meletus tahun 2010 yang lalu, dusun ini relatif aman dari bahaya ”wedhus gembel” (awan panas) atau pun banjir lahar Merapi. Dusun ini hanya terkena hujan abu kasar/pasir dari Merapi yang menutupi tanah pekarangan dan tanaman pertanian. Bahkan warga di dusun ini merasa tenteram dan aman, dan ada yang tidak mengungsi.

MERAPI-AMAT SUKANDAR
Tugu Watu Kurung.

Sebagai peringatan murkanya Gunung Merapi, Ki Reksajiwa membangun tugu ’Watu Kurung’. Tugu batu Merapi ini diresmikan ketika acara Nyadran tahun 2011 yang lalu oleh Kepala Dusun Wonogiri, M. Abu Sujak. “Tugu Watu Kurung” ini dibangun secara gotong royong. Tugu setingggi 2,25 meter ini berlokasi di sudut jalan dusun, di dekat sungai Pabelan. Di puncak tugu inilah dipasang sebuah batu “Watu Kurung” berukuran kira-kira 45 cm. Batu ini ditemukan di Kedung Geblak di sungai Pabelan oleh Ki Reksajiwa.

Pembangunan tugu ini karena ada ‘dhawuh’ (perintah) yang diterima Ki Reksajiwa dalam mimpinya, ketika Gunung Merapi murka tahun 2010 yang lalu. Dalam mimpinya dia didatangi seorang tokoh agama Hindu Tengger bernama Eyang Sarjo Suryakusumo yang memerintahkan supaya membangun tugu sebagai peringatan murkanya Gunung Merapi. Makna tugu iki menurut Ki Reksajiwa sebagai perlambang ‘Manunggaling Kawula Gusti’ (seperti yang tertulis dengan aksara Jawa di tugu ini). Di tugu ini ada gambar tokoh-tokoh panakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Gambar panakawan ini sebagai lambang ‘tepa slira’ dan kerukunan warga dengan saling menghormati diantara warga dusun.

Tugu dengan tetenger waktu yang dipahat, tanggal 4 bulan Asuji tahun 1933 Lodra. Ini merupakan tanggal menurut perhitungan waktu Tahun Jawa Nusantara yang dianut warga Urip Sejati. Tanggal tersebut sama dengan tanggal 19 Ruwah 1944 Be tahun Jawa, atau 21 Juli 2011 Masehi. Diharapkan tugu ini bisa menjadi peringatan terjadinya bencana alam Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu dan bisa memberikan pengayoman kepada warga dusun Wonogiri. (Amat Sukandar)

Read previous post:
Catat, Mulai Hari Ini Pelanggar Protokol Covid-19 di Yogya Langsung Kena Sanksi Hingga Denda

Close