SURAN WARGA ‘PAHOMAN SEJATI’ DI KAKI MERAPI (2) – Mantram sebagai Puja-puji Keselamatan Suran

Sesaji bermacam-macam ‘empon-empon’ khususnya kencur, mempunyai makna dunia ini agar bisa ‘kencar-kencar,’ (terang benderang) ‘kawentar’ (terkenal) dan adiluhung yang bisa memegang teguh pada kebenaran yang hakiki. Sesaji ini juga bermakna sebagai ‘kurban’ dan ‘bekti’ (bhakti) kepada para leluhur cikal bakal dusun.

RITUAL yang bernuansa vertikal, memanjatkan doa kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta, dengan membaca doa mantram ‘Panembah Jawi’ sebagai puja-puji Keselamatan Suran. Bacaan mantram ini dilantunkan dengan khidmat sambil bersikap tangan “Sembah Cakra Kuncung”, cara menyembah warga Pahoman Sejati dengan sembah mengangkat kedua tangan di atas kepala. Ritual doa mantram ini dipimpin Ki Reksajiwa. Doa ‘Panembah Jawi’ adalah mantram sebagai rasa hormat kepada Hyang Murbeng Dumadi. “Pakurmatan bekti lair batin, ngemungna mring Hyang Murbeng Dumadi, Pukulun pindha urubing latu mijil saking kajeng, lir pathi mijiling toya susu.” Demikian salah satu bait mantram yang diucapkannya dengan khidmat.

Mantram itu juga menghormati para leluhur cikal bakal desa yaitu Raden Panji dan Raden Banjarsari, para ‘danyang’ dan ‘bethara’ termasuk Sang Hyang Semar dan Kyai Sapujagad di Gunung Merapi yang dipercaya menjadi ‘Sang Pamomong’ mereka, sampai pada Bapa Adam dan Ibu Khawa, manusia pertama di dunia. Tidak lupa pula hormat kepada ‘sedulur papat, lima pancer’ yang selalu mendampingi dan mengayomi setiap diri manusia.

Harapan mantram itu, agar para warga penghayat Kejawen ‘Pahoman Sejati’ selalu mendapat perlindungan dan tetap setia pada ajaran dan bisa menjadi ‘titah tinuladha’ serta patuh dan setia kepada Kawruh Kejawen. Sehingga mereka dapat menghayati kawruh ‘Manunggaling Kawula Gusti’ dengan hidup yang sempurna. Dalam doanya, Ki Reksajiwa juga memohon agar wabah pandemi Covid 19 segera sirna dari Bumi Nusantara.

MERAPI-AMAT SUKANDAR
Warga berebut isi Gunungan.

Dalam perayaan Suran ini juga dilaksanakan kirab sesaji Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon. Gunungan Lanang berupa hasil pertanian sebagai perlambang hasil karya orang laki-laki yang bermatapencaharian petani yang diserahkan kepada orang perempuan. Sedangkan Gunungan Wadon berupa Jenang Sura lengkap dengan lauk-pauknya yang ditempatkan di takir-takir kecil. Takir-takir jenang sura ini ditata melingkar sembilan tingkat berwujud gunungan. Dalam ritual Suran ini juga ada sesaji Tumpeng Robyong, Tumpeng Tanggap Warsa Suran, sesaji Samparan, jajan pasar dan ingkung ayam.

Ubarampe sesaji dan gunungan-gunungan tersebut dikirab mengelilingi dusun Wonogiri Kidul. Perjalanan kirab ini diiringi kesenian rakyat dengan suara tetabuhan yang membuat semarak suasana kirab Suran. (Amat Sukandar)

Read previous post:
Deltomed Laboratories Salurkan Donasi 300.000 Kaplet Imugard untuk Tenaga Kesehatan

Close