SURAN WARGA ‘PAHOMAN SEJATI’ DI KAKI MERAPI (1) – Menggelar Tradisi Ritual Bhakti Bumi

Sasi Sura wulan kang sawiji
Wijining kang bakal hatumeka
Prayitna lair batine
Mula patraping kono
Budi padhang kang hanelahi
Panjangka kang sampurna
Miwah lakunipun
Mateka suraning driya
Titi tlesih nastiti sabarang kalir
Eling duga prayoga

ITULAH geguritan “Sasi Sura” karya (almarhum) Prof. Dr. RM Wisnoe Wardhana, sesepuh Kawruh Kejawen “Urip Sejati”, yang dibaca dalam mengawali acara ritual tradisional menyongsong Tahun Baru Jawa 1954 Jimakir, pada tanggal 20 Agustus 2020 M lalu. Karena menurut perhitungan Tahun Jawa Aboge sebagai tahun berdasarkan perputaran rembulan, tanggal 1 Sura 1954 Jimakir diawali pada pukul 18.00 WIB.

Ritual tahunan ini diselenggarakan warga Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa “Pahoman Sejati” (semula bernama “Urip Sejati”) dusun Wonogiri Kidul desa Kapuhan Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Sebuah dusun yang terletak di tepi sungai Pabelan yang berjarak 9 kilometer dari Gunung Merapi. Ritual ini dipimpin sesepuh adat Ki Reksajiwa, 68 tahun. Jumlah warga Penghayat Kepercayaan ‘Pahoman Sejati’ di dusun ini kini ada 20 kepala keluarga dengan bermatapencaharian utama sebagai petani dan pekerja seni. Ritual tradisional di tengah masa pandemi Covid 19 dalam pelaksanaannya tidak lepas dari protokol kesehatan.

Geguritan dengan tembang Dandanggula “Weda Purwaka” dilantunkan Ki Reksajiwa, bermakna berhati-hati lahir batin dalam melangkah di tahun baru dengan sikap budi yang terang dan harapan yang sempurna agar hidup bisa dijalani dengan teliti dan hati-hati dan ingat pada hal-hal yang baik. Memaknai ubarampe sesaji dalam ritual ini sebagai wujud ‘persembahan’ dan merupakan doa tanpa kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Yang Menciptakan Alam Semesta.

MERAPI-AMAT SUKANDAR
Suasana Ritual Bhakti Bumi.

Dan harapan yang disampaikan dengan persembahan sesaji ini adalah sebuah kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Sesaji adalah doa tanpa kata-kata, doa yang diwujudkan dengan benda-benda bermakna simbolis. Ki Reksajiwa menjelaskan, pemasangan “janur kuning” (daun muda pohon aren/enau) pada gapura menuju ke padepokan tersebut bermakna simbolis untuk memohon pengampunan kepada Gusti Sing Akarya Jagad.

Kata “janur” akronim dari kata-kata “memuja nur”. Nur yang berarti Cahaya Illahi. Dan “kuning,” dari kependekan kata “lakune sing wening.” Sawen yang dipasang terdiri dari janur kuning, alang-alang dan ‘godhong tawa’ (daun dadap srep). Sawen ini mengandung arti, dengan laku yang ‘wening’ (bening), akan terbebas dari rintangan dan tawar dari ‘dora wisa’ (dora berarti kebohongan, dan wisa bermakna bisa, penyakit). (Amat Sukandar)

Read previous post:
Kucing Ditembaki, Pemilik Lapor Polisi

KARANGANYAR (MERAPI) - Rumah Difabel Meong melaporkan tindak pidana penganiayaan kucing milik warga Colomadu, Annisa (20) ke Polres Karanganyar. Upaya

Close